Sahabat Ali krw., tentang Anak-anak Kita


Sabahat Ali karramalluwajhah mengingatkan tentang anak-anak kita, bahwa mereka terlahir untuk zaman mereka yang akan datang dan bukan untuk zaman dimana kita setiap hari melangkah menghirup hiruk pikuk udara kehidupan sekarang. Mereka akan hidup pada zamannya yang mungkin sangat berbeda dengan zaman kita sekarang. Lalu bekal apa yang perlu kita siapkan untuk mereka agar mereka dapat eksis di zamannya? Harta kah, ilmu (pendidikan) kah, iman dan akhlak kah, atau curahan kasih sayang, atau semangat untuk hidup? Pasti kita akan menjawab semuanya. Karena kita sebagai orang tua pasti ingin mengantarkan anak kita masing-masing untuk menyongsong zamannya, memberi warna yang baik untuk zamannya, dan menjadi pahlawan bagi zamannya, dan yang pasti dia akan menjadi orang yang shaleh/shalehah yang memegang teguh imannya sampai akhir hayat.

Tepuk Anak Shaleh

Prok prok prok

Aku anak shaleh. Rajin shalat rajin ngaji

Orang tua dihormati. Cinta Islam sampai mati

La ilaha illaha illaallah Muhammadurrosulullah

Islam Islam  yess!!

Itu tepukan anakku yang berusia 5 tahun saat baru pulang dari TPQ. Semangat sekali dia bertepuk dan mengacungkan kepalan tangannya.

Saya teringat apa yang digambarkan oleh Kahlil Gibran dalam puisinya, berikut:

Anakmu bukan milikmu

Mereka adalah putra putri Sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka lahir lewat engkau tapi bukan dari engkau

Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu

Berilah mereka kasih sayang

Karena pada mereka ada alam pikiran sendiri

Patut kau berikan rumah bagi raganya

namun tidak bagi jiwanya

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpi

Engkau boleh beruaha menyerupai mereka,

namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur

ataupun tenggelam ke masa lampau

Engkau busur tempat anakmu

Anak panah hidup… melesat pergi.

Kita orang tua harus sadar betul bahwa anak-anak kita memang akan hidup pada zamannya. Mereka tidak akan bersama kita. Mereka akan mewarnai zamannya. Oleh karenanya orang tua berkewajiban memberi bekal hidup yang baik. Satu hal yang tidak boleh terlupakan yaitu bekal iman, agama tauhid. Iman inilah yang akan mengantarkan mereka menapaki zamannya dengan benar.

Sering terdengar doa untuk anak-anak kita adalah agar mereka menjadi anak yang shaleh/shalehah. Ketika ada anak baru lahir, lalu orang tuanya berakikah dan membagikannya untuk tetangga, dia akan melampirkan secarik kertas di atasnya dengan sederet nama yang paling bagus yang dia pilih untuk anaknya lalu disertai permohonan doa agar menjadi anak yang shaleh/shalehah. Memang itu yang diharapkan oleh setiap orang tua.

Saya merasa shaleh/shalehah itu menggambarkan sesuatu yang tidak muluk-muluk, tapi sebuah kecukupan yang mencakup segalanya. Orang tua tidak akan mengatakan semoga anaknya menjadi orang kaya, konglomerat, ceo, presiden, menteri dll. Artinya, syukurlah kalau mereka menjadi orang kaya, punya kedudukan dll, dan itu sebagai harapan yang tak tertuangkan, tapi label shaleh/shalehah harus tetap melekat sebagai trend harapan orang tua.

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: