UN dan Jaring-jaring Kesibukan


Ujian Nasional SMP/MTs yang akan dilaksanakan Senin-Kamis, 29 Maret – 1 April 2010, telah menebar berbagai kesibukan yang amat, terutama madrasah/sekolah penyelenggara UN. Persiapan UN mulai dari pendataan peserta (DNS/DNT), persiapan administrasi, persiapan pengawas, pembenahan ruang ujian, dan yang paling mendebarkan adalah bagaimana menyiapkan kesiapan siswa untuk mengikuti UN. Seluruh kemampuan guru dikerahkan untuk mengupayakan sukses UN. Ya, UN telah menebarkan jarring-jaring kesibukan yang amat panjang dan melelahkan.

Sibuk. Semua dikejar target lulus. Yang berdebar-debar kadang bukan siswa, tapi gurunya. Guru sangat khawatir kalau siswanya ada yang tidak lulus. Bukan hanya guru mapel UN, tapi semua komponen madrasah ikut “tersibukkan” menghadapi hajatan akbar, yang berjudul UN. Mulai dari penambahan jam belajar, les, istighosah, motivasi dan hypnoterapi, pengecatan gedung, kebersihan, penataan ruang ujian, penataan halaman dan taman, semua untuk mendukung upaya Tri Sukses UN;  sukses persiapan, sukses penyelenggaraan dan sukses hasil.

Sukses persiapan berkaitan dengan urusan administrasi, anggaran, dan pelaksana di lapangan, serta memantapkan kesiapan anak didik secara akademik. Sukses penyelenggaraan, adalah bagaimana pelaksanaan UN dapat berjalan dengan lancar, baik secara administrasi maupun riil di lapangan, jujur dan profesional. Sukses hasil bisa dilihat dari tingkat kelulusan. Bukan hanya target 100% lulus, tapi target nilai rata-rata untuk sekolah atau nilai sempurna (10) untuk mapel tertentu.

Semua komponen madrasah baik kepala madrasah, guru dan karyawan, bahkan komite semua menyadari, bahwa tingkat kelulusan siswa  merupakan parameter kinerja mereka. Salah satu ukuran keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan bisa dilihat dari hasil UN. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain kecuali mengupayakannya dengan sebaik mungkin.

Pro dan Kontra UN

Satu hal yang sering menjadi polemik UN adalah karena UN sekarang ini menjadi satu-satunya penentu kelulusan yang tidak bisa ditawar lagi. Sehingga banyak lembaga pendidikan yang kerepotan menghadapi UN untuk mengejar target kelulusan.

Sebetulnya ada beberapa faktor penentu kelulusan yang lain seperti kepribadian/akhlak, dan pencapaian standar nilai untuk mapel non UN, tapi itu sering terabaikan, karena sekolah “menginginkan” semua siswanya lulus. Artinya faktor-faktor yang lain bisa “direkayasa” karena yang menentukan pihak sekolah. Tapi UN tidak demikian. Ibaratnya UN adalah hak veto. Jika UN lulus, maka fakator kelulusan yang lain mengikuti. Tapi meskipun kepribadiannya bagus, dan mapel yang lain lulus dengan sangat memuaskan, kalau tidak lulus UN, maka dia tetap dinyatakan tidak lulus.

UN juga menyimpan berbagai persoalan, antara pro dan kontra. Ada beberapa alasan mereka yang kurang setuju dengan sistem UN yang sekarang, antara lain (1) karena UN dijadikan satu-satunya penentu kelulusan, (2) soal UN sama, sehingga dianggap tidak adil mengingat kualitas pendidikan di suatu daerah berbeda, terutama madrasah/sekolah pinggiran apalagi di luar jawa.

Di sisi lain, UN juga memiliki beberapa sisi positif. Pertama, UN merupakan parameter bagi pelaksanaan pendidikan di madrasah/sekolah  secara nasional, sehingga  suatu lembaga pendidikan dapat melihat posisi/ranking secara nasional. Kedua,  hasil UN dapat dijadikan feedback untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran di madrasah, selanjutnya; Ketiga, adanya UN dapat memacu para pelaksana pendidikan untuk terus meningkatkan proses pendidikan yang berkualitas. Yang jelas dengan adanya UN, pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan formal setingkat SLPT dan SLTA akan lebih serius menangani pendidikan. Keempat, UN telah menaikan tingkat partisipasi masyarakat/orang tua siswa untuk senantiasa membantu dan memantau proses pembelajaran di sekolah.

Di beberapa situs pendidikan, poling tentang UN memang beragam. Tapi pada umumnya antara yang setuju dengan yang tidak setuju banyak yang setuju dengan UN. Mereka banyak yang setuju tapi dengan sistem yang diperbaiki. Sayangnya tidak disebutkan sistem seperti apa yang diinginkan. Sepertinya masyarakat masih menunggu kebijakan yang lebih pas dari pemerintah. Barangkali sistem UN yang diharapkan adalah UN yang tetap dapat dijadikan  standar kualitas pendidikan secara nasional, tapi juga tetap mengakomodir aspek keberagaman dan tingkat permasalahan yang dihadapi  sekolah/madrasah di berbagai daerah.

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: