Menjaga Motivasi Belajar Pasca UN


Merasa sudah selesai, merasa tidak ada beban. Apapun hasilnya yang penting UN sudah selesai. Itulah kondisi sebagian anak didik kita pasca UN.

Aksi konvoi di jalan, corat-coret baju, dan berbagai aktivias hura-hura lainnya adalah cermin kegembiraan mereka setelah terbebas dari beban berat bernama UN. Ya, mereka menginginkan aktivitas yang menyenangkan, tidak menguras otak. Pokoknya sesuatu yang enjoy, yang bisa mendinginkan otak.

Kondisi seperti itu akan menyeret anak didik kita pada suasana yang tidak kondusif untuk belajar, atau sekedar untuk membaca. Ada beberapa atau mungkin sebagian besar anak didik kita tidak bersemangat mengikuti pelajaran. Motivasi balajar mereka menurun.

Rajin ke sekolah tapi motifnya berbeda, ingin jalan-jalan, sekedar berkumpul teman-teman, atau alasan yang menyenangkan lainnya. Yang jelas ada rasa malas belajar, tidak bersemangat untuk melakukan sesuatu yang menguras otak. Sepertinya energi mereka sudah habis untuk UN. Tapi sekali lagi, ini sebagian,  tidak semua siswa. dan ini harus segera disikapi oleh guru.

Kita sebagai guru atau orang tua sangat memaklumi kelelahan psikologis mereka pasca UN. Tugas guru adalah mengingatkan mereka. Masih ada ujian tertulis UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional), yaitu untuk materi PAI (Qurán Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam dan Bhs. Arab), dan UAM (Ujian Akhir Madrasah) seperti PKn, IPS, Seni Budaya, TIK, Mulok dll. Juga masih ada ujian praktik ibadah, Al Qurán, Bahasa (Arab, Inggris, Indonesia dan Jawa), IPA, TIK, Seni Budaya dan Penjas (olah raga).

Masih adakah energi untuk menghadapi UAMBN/UAM?

Pembelajaran belum selesai, sementara motivasi belajar anak menurun. Ini tantangan bagi guru untuk lebih bijak menyikapinya. Dan saya yakin guru mempunyai banyak jurus/kiat agar mereka tetap semangat belajar . Guru bisa dan  bebas berimprovisasi untuk membawakan mata pelajarannya. Prinsipnya, belajar  harus menyenangkan. Temani anak didik kita dengan pembelajaran yang  menyenangkan. Bisa belajar sambil bernyanyi, bersholawat, mendengarkan musik, berpuisi, atau belajar di alam terbuka.

Prinsip belajar menyenangkan sebenarnya tidak hanya diterapkan setelah anak mengikuti UN, tapi dalam kondisi biasapun belajar harus menyenangkan. Yang harus disadari guru adalah, ini kondis khusus, dimana mereka lelah secara psikologis setelah mengikuti UN. Mungkin tidak semua siswa, tapi  fenomena ini sering muncul pada kebanyakan anak didik kita, dan mungkin juga guru-guru kita, terutama guru-guru mapel UN.

Memahami kondisi yang demikian, guru sebagai manusia dewasa di madrasah harus tetap menjaga konsistensi profesinya sebagai pendidik, pembimbing, konsultan, dan sebagai orang tua kedua. Pelajaran apapun yang diberikan hendaknya dapat menjadi motivasi belajar anak didik. Menyenangkan, itu kuncinya.

Ciri pembelajaran yang menyenangkan seperti apa?

Mungkin sebagian besar guru-guru kita sudah pernah mengikuti workshop, atau seminar tentang pembelajaran yang menyenangkan. Kita mengenal istilah PAKEM atau PAIKEM. Sebuah proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, dengan menerapkan berbagai macam metode pembelajaran. Tapi saya tidak akan menerangkan itu. Terlalu panjang untuk dikemukakan di sini, dan itu sudah banyak ditulis orang.

Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Pembelajaran yang dilaksanakan haruslah dilakukan dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan. Mengapa pembelajaran harus menyenangkan? Dryden dan Voss (2000) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak diikuti suasana tegang sangat baik untuk membangkitkan motivasi untuk belajar.

Pada dasarnya belajar paling efektif itu pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan. Menurut penelitian, anak-anak menjadi berminat untuk belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman mereka dan disesuaikan dengan alam berpikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apa lagi jika disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar. Ciri yang terakhir ini merupakan ciri pembelajaran kontekstual.

Menyenangkan dapat diartikan : penampilan guru yang menarik, suasana belajar tidak searah, kaya dengan metode, desain kelas yang tidak membosankan (enjoi learning), belajar sambil bermain dan bernyanyi, hasil belajar anak dipajang di kelas, didekatkan ke alam nyata, ada penghargaan bagi yang berprestasi.

Silahkan Anda berimprofisasi untuk menyajikan pembelajaran yang tidak  monoton dan membosankan, tapi sebuah pembelajaran yang menantang, ada inovasi-inovasi baru, ada ide kreatif, eksploratif, dll. Buatlah mereka enjoy.

Selamat berkreasi.

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: