Pendidikan Karakter


Kegiatan shalat zuhur berjamaah di MTsN BobotsariIndonesia sejak zaman nenek moyang terkenal sebagai bangsa yang ramah, sopan, berbudi pekerti luhur, berbudaya adhi luhung, dll. Masihkan potret itu terpampang di negeri ini?

Lihatlah tayangan televisi kita. Saya sendiri sulit mendeskripsikan bagaimana kondisi Indonesia dari jepretan wartawan yang dilansir media massa. Ada kerusuhan, semburan lumpur, kebakaran, banjir, jatuhnya meteorit, kerusakan alam, kemiskinan, korupsi, markus, dan seabreg masalah hukum, sosial, ekonomi, budaya, moral, pendidikan, dll.  Sepertinya Indonesia sudah sangat jauh dari gambaran “baldatun thoyyibatun warobbun ghofur”. Sebuah negeri yang baik, damai, sejahtera, aman, dan penuh keberkahan, ampunan dan ridlo Allah Swt. Indonesia bukan lagi surga bagi semua penghuninya. Ada Kemiskinan, kerusuhan, kebodohan, pengangguran dll, sepertinya sebuah lingkaran persoalan yang tidak terselesaikan.

Dunia Pendidikan Menjadi Tertuduh?

Ah, tidak juga. Mungkin dalam kasus-kasus tertentu ya. Tapi kalau kebobrokan Indonesia dituduhkan karena kesalahan dunia pendidikan, menjadi tidak fair. Pendidikan adalah tanggung jawab semua komponen, baik lembaga pendidikan, pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Orang tua dan masyarakat (orang dewasa) tugasnya mendidik memberi  contoh yang baik kepada anak-anak dan remaja di luar lembaga pendidikan. Sehingga pendidikan yang berjalan di sekolah dan madrasah dapat bersinergi dengan apa yang dialami siswa di keluarga dan lingkungan masyarakat. Ya, pendidikan karakter bangsa adalah tanggung jawab bersama komponen bangsa.

Saya teringat ketika peringatan Hardiknas 2 Mei 2010 kemarin, Mendiknas, Muhammad Nuh, mengatakan bahwa pendidikan karakter bangsa sangat mendesak untuk segera diterapkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya untuk membangun karakter bangsa Indonesia. Menurutnya di antara karakter yang ingin dibangun adalah karakter yang berkemampuan dan kebiasaan memberikan yang terbaik, giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran.   Karena itu, katanya, peringatan Hardiknas tahun 2010 bertemakan “Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”.

Lebih lanjut Mendiknas mencermati fenomena sirkus, yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat. Fenomena anomali yang sifatnya ironis paradoksal menjadi fenomena keseharian, yang dikhawatirkan akhirnya dapat mengalami metamorfose karakter.  “Kadang-kadang menjadi lucu dan mengherankan, penegak hukum yang mestinya harus menegakkan hukum ternyata harus dihukum. Para pendidik yang mestinya mendidik malah harus dididik. Para pejabat yang mestinya melayani masyarakat malah minta dilayani. Itu adalah sebagian dari fenomena sirkus tadi itu. Semuanya bersumber pada karakter,” kata Mendiknas.****

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: