Bukan “Tidak Lulus” tapi “Mengulang”


Ahad pagi (9 Mei 2010), sekitar pukul 09.00 aku bersiap pergi, tapi mendadak ada nomor asing masuk dan membunyikan HP-ku. Setelah kuangkat, aku mendengar suara seorang perempuan, sepertinya ibu-ibu. “Assalamua laikum pak, saya bu Sri, mamanya Anto (bukan nama sebenarnya), mau ke rumah bapak?”. “Ya, silakan bu, saya ada di rumah”, jawabku singkat.

O, rupanya salah seorang wali murid ingin menemuiku. Aku memang menjadi wali kelas IXA, dan Anto adalah salah satu siswa kelas IXA di MTs Negeri Bobotsari. Anto adalah salah satu dari beberapa siswa yang nilai UN-nya belum memenuhi standar lulus sehingga harus mengulang. Rata-ratanya belum memenuhi standar 5,5. Kalau nilai Matematika 4,25 saja, dia sudah lulus. Tapi itulah, sudah nasibnya seperti itu, “mengulang”.

Cukup lama aku menunggu kedatangan seorang wali murid. Hampir 15 menit, tapi tak kunjung datang. Tiba-tiba hp-ku berbunyi lagi. “Halo pak, saya sudah sampai di desa Baleraksa, tapi nyari rumah bapak belum ketemu”. O, rupanya dia kebingungan cari alamat rumahku. Maklum, rumahnya cukup jauh, desa Kajongan kec. Bojongsari. “Tanya saja arah pasar kliwon, nanti ke barat sekitar 50 meter”, jawabku berusaha membantu memberi petunjuk arah yang mudah untuk mencapai rumahku.

Benar, beberapa menit kemudian, seorang ibu dengan menggendong anak kecil berhenti di depan rumahku. Aku yang memang menunggu di depan rumah, langsung mempersilakan tamunya masuk.

Meski tampak kecapean, sepertinya  ibu Sri ini sudah tidak sabar untuk menanyakan berbagai hal  yang menumpuk dibenaknya. “Begini pak, pertama saya ingin bersilaturahmi, selanjutnya anak saya Anto kan tidak lulus, selanjutnya bagaimana? Ini nilainya (sambil mengeluarkan kertas dari dalam tasnya, yang ternyata kertas pengumuman kelulusan)”.

Aku berusaha rileks dan tersenyum menerima selembar kertas sambil mendengarkan pertanyaan ibu Sri. Tapi belum sempat aku menjawab, bu Sri menyambung lagi dengan pertanyaan selanjutnya.

“Bagaimana ya pak, anak saya Anto memang susah sekali kalau disuruh belajar, sukanya main sama teman-temanya, apa teman sekelasnya banyak yang tidak lulus? apa masih bisa lulus kalau ujian lagi?”.

Aduh, ibu ini tanyanya banyak sekali. Aku pun tetap berusaha senyum.
“Begini bu, anak ibu bukannya ‘tidak lulus’, tapi ‘mengulang’”.

Aku berusaha menenangkannya. Sepertinya bu Sri sangat trauma dengan kata-kata “tidak lulus”. Mungkin bu Sri terbayang beberapa tayangan televisi, bagaimana seorang siswa stress bahkan ada yang  berusaha menenggak racun serangga karena oleh sekolah dinyatakan “tidak lulus”. Ya, “tidak lulus” UN, demikian dikatakan di tayangan televisi. Saya pun melihat ada beberapa sekolah yang mengumumkan kelulusan siswa dengan kata-kata “TIDAK LULUS”, dengan huruf kapital. Padahal pada pengumuman resmi dari Diknas ditulis L bagi yang lulus, dan U bagi yang mengulang. Mungkin ini kajian psikologi bahasa. Bahasa ternyata sangat mempengaruhi psikologis orang. Kita memang perlu menyampaikan sesuatu dengan menggunakan hati dan perasaan lawan bicara.

“O, begitu ya pak?”, kata bu Sri sambil membetulkan posisi duduknya. “Ya, lihat saja di pengumumannya kan tidak dikatakan ‘tidak lulus’, tapi ‘mengulang’ jadi ibu tidak perlu khawatir, nanti kan ada ujian ulang, yang mengulang hanya pelajaran yang nilainya masih kurang. Kalau Anto nilai yang kurang  matematika, ya nanti ujian yang mengulang matematika saja, atau kalau mau mengulang semua juga boleh”. Aku berusaha menjelaskan sedikit, yang sebenarnya sudah disampaikan berkali-kali saat pengumuman, mungkin bu Sri belum paham saat dijelaskan di kelas.

“Anak ibu sudah lulus di Ujian Madrasah, tapi ujian nasionalnya ada satu pelajaran yang nilainya kurang. Kriteria kelulusan UN itu ada beberapa hal. Pertama, nilai rata-rata minimal 5,50. Kedua, nilai ujian minimal 4,25 yang penting rata-rata minimal 5,50. Ketiga, boleh ada dua mapel yang nilai 4,00, tapi yang dua mapel yang lain harus minimal 7,00 sehingga nilai rata-ratanya 5,50.

“Terus, kalau ujian ulangnya tidak lulus lagi bagaimana pak?” Tanya bu Sri yang kelihatannya sangat menghawatirkan anaknya. “Wah, ibu tidak perlu khawatir seperti itu, yang penting Anto mengikuti ujian ulang, insya allah, kalau ibu terus menerus memberi dukungan, memberi perhatian dan Anto mau mengikuti bimbingan di sekolah, insya allah lulus”, aku berusaha memberi kekuatan bu Sri. “Optimis saja bu, berilah kepercayaan untuk Anto, dia pasti bisa membuktikannya, mungkin waktu ujian nasional kemarin Anto kurang siap, sehingga nilainya kurang dari standar. Makanya kita sama-sama memberi dukungan. Di sekolah nanti ada bimbingan khusus untuk anak yang mengikuti ujian ulang, dan ibu yang di rumah juga harus mengawasi kegiatan belajar Anto”.

“Ya pak, terima kasih, mudah-mudahan anak saya nanti lulus, saya titip Anto bagaimana supaya lulus”. “Ya sama-sama bu, lulus atau mengulang tergantung usaha anak ibu juga, sekolah hanya memberi bimbingan sebelum ujian, yang jelas kalau mengikuti ujian ulangan berarti ada kesempatan untuk lulus, anggap saja  kegagalan kemarin adalah sebuah kesuksesan yang tertunda”.

“Ya pak, sekali lagi terima kasih”. Akhirnya ibu Sri berpamitan. Sambil menggendong anaknya yang kecil, sepertinya bu Sri sudah tidak begitu panik, beban pikirannya sudah berkurang, meski ada terlintas sedikit kekhawatiran, tapi sepertinya sudah bisa lega dan legowo untuk membangun optimisme. Bahwa kegagalan kemarin bukan akhir segalanya. Yang lulus pun bukan akhir perjuangannya, karena masih banyak tantangan menghadang.***

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

2 Responses to Bukan “Tidak Lulus” tapi “Mengulang”

  1. afitta mengatakan:

    sosialisasinya ke siswa dan wali murid barangkali kurang pak…., siapapun pasti akan panik kalo anaknya tidak lulus ujian eh salah mengulang ujian… untung bu sri datengnya ke pak khayat coba klo ke bms lebih jauuuuh lg…. hehe…

    • zaenalkhayat mengatakan:

      sosialisasi kan sudah, bu afita juga ikut to. ya karena panik itu, jd pikirannya kurang bening, grusa-grusu, gradag-grudug, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: