Pembelajaran yang Tidak Neko-neko


Saya pernah bertemu dengan seorang kepala madrasah. Usianya masih muda dan kelihatanya cukup enerjik. Dia mengatakan “Pembelajaran sekarang tidak perlu neko-neko”. 

Saya tidak tahu apa indicator pembelajaran yang neko-neko menurutnya. Tapi kemudian dia menjelaskan lagi “yang penting guru mengajar mengetahui SKL mapel yang diampunya. Dari SKL (standar kompetensi lulusan) ini dikembangkan menjadi indicator sebanyak-banyaknya. Ada yang mengistilahkan bedah SKL. Kemudian siswa diberi materi sesuai indikakator dan di beri berbagai tipe soal sesuai indicator itu. Kalau ini dilakukan guru, maka guru akan lebih muda mendeteksi kemampuan siswa”.

“Wah itu sih namanya guru yang baik, yang memang seharusnya begitu, bukannya tidak neko-neko”, aku menimpali ucapan kepala madrasah itu.

“Ya memang harus begitu, guru harus betul-betul menguasai SKL, sehingga yang diberikan kepada siswa tidak ngawur. Guru mengajar ada relnya, tidak nyebrang sana-sini yang tidak ada kaitannya dengan SKL. Sehingga siswa benar-benar menguasai kompetensi yang diharapkan.

Wah ini kepala madrasah yang “guru banget”, pikirku dalam hati. Karena ada kepala madrasah yang tidak peduli atau mungkin tidak punya konsep pembelajaran seperti itu.

“Satu SKL harus tuntas. Jadi sebelum siswa menguasai SKL tertentu tidak boleh beralih ke SKL lain. Istilahnya pembelajaran tuntas. Soal yang sudah dikeluarkan di Mid Semester, tidak boleh dikeluarkan lagi di ulangan semester. Soal yang sudah dikeluarkan di semester gasal, tidak boleh dikeluarkan di semester genap. Jadi proses pembelajaran berjalan berjenjang sesuai SKL yang harus dikuasai siswa”, jelasnya lagi.

“Oleh karena itu, saya ingin sekali ada MGMP Mapel sejenis untuk menterjemahkan SKL menjadi beberapa indicator, kemudian merumuskan materinya, dan sekaligus soalnya. Sehingga suatu saat guru tidak kesulitan mencari bahan dan mencarikan tipe-tipe soalnya. SKLnya apa, materinya seperti apa, dan soalnya seperti apa? Ini sederhana tapi penting dan pokok bagi seorang guru”, jelas kepala madrasah itu. “Saya sudah menyampaikan ide ini di forum KKM, tapi belum ditanggapi secara serius”, lanjutnya menggebu.

Bagus juga pemikirannya. Konsep seperti ini menang sudah ada, tapi kadang guru atau kepala madrasah kurang memahami, sehingga hal yang seperti ini malah dianggap neko-neko. Padahal ini cukup aplikatif dan mudah, tapi membutuhkan motivasi dan kemauan yang tinggi. Sebab biasanya guru atau kepala madrasah menjalankan/mengerjakan “apa yang biasanya dikerjakan”. Tidak mau mencoba sesuatu baru yang mungkin dianggap “merepotkan”atau sekedar membutuhkan waktu dan pikiran dari biasanya.***

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: