Hukuman Siswa; Adil dan Bijaksana


 

Ada guru yang mengkomplain guru lain karena menghukum siswanya yang terlambat masuk kelas karena baru melaksanakan shalat dhuha dan tadarus Al-Qur’an.

Guru menghukum siswa, pasti karena siswanya dianggap salah. Lalu kalau ada guru yang komplen atas tindakan guru lain, itu juga karena guru tersebut telah melakukan sesuatu yang salah –menurut versinya. Trus, baiknya seperti apa? Mungkin ada baiknya kalau kita urai satu persatu.

Ada dua hal yang mungkin dianggap sebagai sebuah kesalahan siswa di sini. Pertama, melakukan perbuatan –meskipun baik, tapi waktunya tidak tepat, bisa menjadi tidak baik. Inilah barangkali yang dimaksud dalam “pengertian adil”, wadú syaiin ála makanatihi (meletakkan sesuatu pada tempatnya). Shalat dhuha baik, baca Al-Qur’an juga baik, tapi momennya tidak tepat, yaitu pada saat seharusnya siswa belajar di kelas. Sama dengan guru yang shalat dhuha, padahal seharusnya ia sedang mengajar. Apalagi guru yang nge-net, browsing atau sekedar buka Facebook pada waktu yang seharusnya ia mengajar. Kedua, tidak prosedural. Sama saja, sesuatu yang baik, tapi tidak procedural juga bisa jadi salah atau tidak baik. Contohnya tadi, anak shalat dhuha padahal seharusnya sedang berada dikelas, tapi karena tidak izin (tidak memenuhi prosedur) jadi salah. Siswa yang tidak masuk, atau meninggalkan kelas secara prosedur harus izin guru/wali kelas. Ini prosedur baku. Sama dengan guru yang DL (dinas luar) dan meninggalkan kelas, juga harus procedural, selain membawa surat tugas atau izin juga harus ada tugas yang jelas (terukur) untuk kegiatan siswa di kelas.

Nah yang jadi pertanyaan adalah, apakah siswa yang melakukan perbuatan “baik dan terpuji” tapi tidak procedural itu harus mendapat hukuman? Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan.

Ketika siswa berbuat sesuatu yang salah atau tidak terpuji-pun, dibutuhkan solusi yang baik dari guru, sehingga siswa menjadi baik. Boleh dengan “hukuman” (punishment), tapi siswa “merasa tidak dihukum”. Ada yang mengistilahkan “hukuman yang mendidik”. Apakah betul ada hukuman yang mendidik? Menurut saya ya itu tadi, sebuah konsekuensi karena melakukan kesalahan, tapi siswa tidak merasa itu sebuah hukuman. Yaitu suatu konsekuensi yang lumrah, mendidik dan fun, yang tidak merendahkan kepercayaan diri siswa. Memang sulit digambarkan dengan kata-kata, tapi cobalah kita melakukan tindakan itu (hukuman/suatu konsekuensi) dengan tidak marah dan fun, sehingga siswa merasa nyaman, enjoy. Kata para ahli, ketika anak dalam keadaan fun, maka katup otaknya terbuka, sehingga akan mempermudah masuknya arus informasi (pelajaran), tapi sebaliknya ketika siswa merasa tertekan karena faktor-faktor tertentu, maka katup otaknya menyempit dan sulit menerima pelajaran.

Siswa shalat dhuha dan baca al-Quran? Itu sinyal yang sangat positif bagi dunia pendidikan madrasah. Tidak semua siswa yang memiliki kesadaran seperti itu, bahkan sangat jarang. Oleh karenanya guru harus dapat mengarahkan kesadaran shalat dhuha dan baca al Quran itu, agar lebih proporsional. Siswa dapat melaksanakannya bersama-sama guru pada saat istirahat, atau mungkin mengalokasikan waktu tersendiri untuk shalat dhuha sekedar 10 menit.

Adil dan bijaksana…..butuh belajar.

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

2 Responses to Hukuman Siswa; Adil dan Bijaksana

  1. Zainal Muttaqien mengatakan:

    Betul sekali pak khayat… sepanjang karir saya mengajar di madrasah selama rentang waktu 2003-2009 tadi sangat jarang saya menemukan siswa(i) saya yg konsisten mengamalkan sholat dhuha dan baca al-qur’an secara mandiri di musholla madrasah. Namun meski jarang di tiap angkatan pasti ada 2-3 orang yg mengamalkan kebiasaan tsb dan saya sangat mengapresiasi sekali. Awalnya memang ada yg sampai terlambat masuk kelas pada jam setelah istirahat pertama tsb. Setelah diberi pengertian bahwa antara sholat dhuha dan masuk kelas kedudukannya lebih ‘wajib’ masuk kelas dibanding sholat dhuha yg cuma sunat, akhirnya tu siswa mau nurut. Saya kasih solusi lagi -tantangan sih- kalo mau serius sholat dhuha tanpa meninggalkan kewajiban masuk kelas mending dhuha nya dilakukan pas waktu istirahat saja..waktunya pasti mepet, tapi itu lah kata saya yg namanya idealisme butuh pengorbanan, krn Tuhan pasti bisa menilai kualitas niat, tekad dan usaha kita. Yg penting ialah kemampuan menyeimbangkan antara idealisme dan peraturan madrasah.

    Mari bersama tinggikan akhlaq, tingkatkan kompetensi, majukan madrasah!

    • zaenalkhayat mengatakan:

      Terima kasih pak muttaqin, Anda sudah melengkapi tulisan saya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: