PAI Masuk UASBN Yes, Islam KTP No !


Tahun 2011 ini, mata pelajaran agama (PAI) masuk menjadi mata ujian UASBN (Ujian Berstandar Nasional), atau dibeberapa situs mengatakan “masuk UN” (Ujian Nasional).

Menurut beberapa sumber, UASBN PAI dilaksanakan karena Kementrian Agama ingin memetakan daya serap pelajaran agama Islam di kalangan pelajar. Karena dimaksudkan untuk pemetaan, hasil UASBN PAI tidak mutlak menentukan kelulusan pelajar. Sekolah juga berhak menentukan batas minimal kelulusan UASBN PAI. Selain itu, nilai UASBN PAI juga tidak dimaksudkan untuk keperluan mendaftar sekolah di jenjang lebih tinggi. Hasil UASN PAI ini akan terpisah dari lembar surat keterangan hasil ujian nasional yang biasa digunakan untuk mendaftar sekolah. Baca: kompas.com

Perlunya kompetensi amaliah

Jangan berbangga dulu PAI masuk UASBN.

Bagi beberapa kalangan, terutama guru agama, masuknya PAI menjadi mapel UASBN mungkin sebuah kemajuan. Ya, dari segi kebijakan dan perhatian pemerintah, ini –mungkin- sebuah kemajuan, meski kebijakan itu juga masih kelihatan sangat lunak. Karenanya perlu kita sikapi secara bijak. Sebab sebenarnya ada beberapa persoalan yang justru menjadi inti dalam pembelajaran agama,  yaitu kompetensi amaliyah.

Okelah, PAI masuk UASBN, tapi lihat dulu seperti apa proses pembelajaran agama di madrasah/sekolah kita. Jangan sampai , karena PAI masuk UASBN, kemudian guru agama hanya menjejali materi untuk mengejar target lulus dengan nilai tinggi, tanpa memperhatikan perkembangan pribadi atau akhlak siswa.

Agama itu sebuah amaliyah, bukan sekedar teori. Pengetahuan agama penting, tapi amaliah lebih penting. Ada sebuah kata-kata bijak, bahwa “ilmu tanpa amal, bagai pohon tak berbuah”. Ada juga hadits yang mengatakan “amal tanpa ilmu akan tertolak”. Karenanya harus ada keseimbangan, keselarasan antara ilmu dan amal. Jadi ada kompetensi amaliah yang nyata, tidak sekedar praktik ibadah di madrasah/sekolah.

Apalah artinya anak bisa bacaan dan gerakan sholat, tapi ketika di rumah tidak pernah sholat. Atau misalnya anak dapat menyebutkan contoh minuman yang haram, tapi di luar itu, justru mereka jadi pemabuk. Ini akan sangat ironis, ketika dilihat ternyata nilai aganya bagus.

Nah, kalau pembinaan amaliyah agama terabaikan karena guru agama hanya mengejar target kelulusan, maka justru hal ini bisa membahayakan pendidikan kita. Jangan sampai madrasah/sekolah kita hanya bisa mencetak muslim-muslim KTP.

Siapa yang mengontrol kompetensi amaliah ini? Ya mereka yang paling dekat dengan anak didik.  Guru, orang tua dan lingkungan.

Ini mungkin bisa menjadi bahan renungan dan keprihatinan kita, guru madrasah, atau guru agama (agama apapun) di tengah krisis moral remaja, untuk berupaya agar pembelajaran agama bukan sekedar teori, termasuk teknik penilaiannya.

PAI masuk UASBN Yes, Islam KTP No !!

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

One Response to PAI Masuk UASBN Yes, Islam KTP No !

  1. munir mengatakan:

    Setuju gan! anak yang jujur ketika mengerjakan soal UASBN PAI, karena takut dosa ada kemungkinan nilainya jelek. Tapi sebaliknya anak yang tidak jujur mengerjakan soal USBN PAI karena tidak takut dosa milainnya “100”. Hebat kan! jadi pada akhirnya anak yang tingkat amaliyah keberagamaannya baik nilai PAI-nya jelek. Dan anak yang akhlak dan amaliyahnya jelek, nilai PAI-nya baik. KACAU KAN! pendidikan di Indonesia sudah kiamat. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: