Ka. Kantor Kemenag Purbalingga: Pegawai Kemenag Harus Pegang 3 As


Tidak seperti biasa, siang itu (25 Januari 2011) beberapa guru tampak bergegas membereskan tempat duduk, buku, dan membersihkan ruang guru. Usut punya usut,  ternyata ada kabar Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Purbalingga, H. Soenaryo, S.Ag. M.Pd. akan hadir di MTs Negeri  untuk keperluan pembinaan institusi.

Dalam acara pembinaan yang dipandu langsung oleh kepala madrasah itu, Ka. Kemenag Kab. Purbalingga menyampaikan tiga hal penting, tentu saja dengan gaya khas guyonan Pak Naryo. Pada intinya beliau menyampaikan bahwa seluruh komponen Kementrian Agama harus memegang 3 As, termasuk guru. Yaitu (1) Kerja keras, (2) Kerja cerdas, dan (3) kerja ikhlas.

Berikut adalah catatan saya mengikuti pembinaan dari Ka.Kemenag Purbalingga. Semoga bermanfaat.

Kerja Keras

Gaji guru sekarang sudah lebih baik, apalagi guru-guru sertifikasi. Oleh karenanya guru harus bekerja keras, lebih baik lagi agar output yang dihasilkan sesuai dengan harapan.

Indikator dari pencapaian kerja keras antara lain, sekolah tidak lagi direpotkan dengan masalah rekrutmen siswa baru. Siswa yang masuk harus diseleksi, dan mencari input terbaik. Jangan asal banyak siswanya, tanpa memikirkan kualitas. Indicator berikutnya adalah kualitas lulusan dilihat dari semua aspek.

Guru juga harus mengubah paradigm lama, baha banyaknya tumpukan kertas, buku dll dimeja guru menunjukkan guru yang rajin. Dan saking banyaknya kertas dan buku di meja, gurunya tidak kelihatan. Tidak begitu. Paradigm itu harus kita ubah. Justru guru yang rajin itu yang mejanya bersih, rapi, dan hanya ada catatan/buku yang dipakai hari itu. Kalau sudah selesai, semua perangkat dimasukkan ke laci. Dan kalau ada buku, itu bukan buku pembelajaran siswa, tapi buku-buku pengembangan profesi. Artinya guru harus memiliki referensi yang lebih banyak untuk meningkatkan kemampuan profesinya.

Kerja Cerdas

Guru yang cerdas dalam bekerja itu tidak capai. Kalau ada guru yang kecapaian mengajar, itu tandanya belum cerdas dalam bekerja. Guru yang cerdas adalah guru yang bisa memotivasi anak didik agar lebih aktif dan mau belajar mencari pengetahuan sendiri. Guru hanya memandu, mengarahkan dan mendiskusikan hal-hal yang belum dikuasai anak didik. Guru harus mampu memanfaatkan, memberdayakan sumber yang ada, baik SDM, media, lingkungan dll.

Satu hal yang harus diingat oleh semua komponen, bahwa guru dan karyawan adalah Team Work. Semua harus kerja dan bekerja sema, karena kita satu sistem, satu tim, tidak boleh ada komponen yang merasa lebih penting dari komponen yang lain.

Team work (institusi) harus membuat program diawal tahun, baik kegiatan, pelaksana sampai pendanaannya. Dan di akhir tahun harus ada evaluasi dan tindak lanjut untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang.

Termasuk dalam kerangka kerja cerdas, adalah seorang pegawai harus memanaj kehidupan keluarganya. Jangan sampai guru sertifikasi malah jadi tambah banyak hutang. Pegawai harus memenej ekonomi keluarga, memenej pembiayaan pendidikan anak, memenej pembiayaan rumah, kendaraan, ONH, dan memenej mau apa nanti setelah pension. Jangan sampai sudah sampai masa pension belum punya rumah, belum berhaji, malah sakit-sakitan dll. Kalau bisa, kita harus memenuhi kebutuhan konsumsi (lauk pauk) dari kebun sendiri. Jangan semuanya membeli. Beras, sayuran dan cabe, cukup diambil dari sawah dan kebun sendiri. Kekurangan bumbu yang lain  bisa beli.

Guru yang cerdas adalah guru yang tidak membawa masalah rumah ke sekolah, dan sebaliknya. Urusan sekolah harus selesai di sekolah, urusan rumah jangan di bawah ke sekolah. Gunakan jam luang di sekolah untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi. Kalau belum selesai cobalah pulang agak sore, toh tidak setiap hari.

Kerja Ikhlas

Moto kementerian agama adalah ikhlas beramal. Bila semua pekerjaan dilandasi dengan ikhlas, isnya Allah hasil yang diperoleh lebih baik, lebih berkah. Bila dilandasi ikhlas, insya Allah akan senantiasa meridloi kita.

Kerjakan apa tugas kita dengan niat ibadah. Kerja dari jabatan kita adalah amanah. Jadi guru amanah, jadi kepala amanah, jadi karyawan juga amanah. Demikian juga di rumah, di masyarakat. Hendaknya semua kerja kita dilandasi ikhlas mengharap keridloan Allah. Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Kesimpulan:

Kita harus mengoptimalkan kemampuan profesi untuk memperoleh hasil kerja yang optimal dengan dilandasi ikhlas dan niat beribadah kepada Allah swt.

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: