Diskursus Pendidikan Berbasis Karakter


Catatan ini saya ambil dari Majalah Risalah Nahdlatul Ulama No. 26/Thn IV/1432H/2011, hal 46. “Diskurus Pendidikan Berbasis Karakter”, oleh: H. Abdul Hamid, M.Ag. Anggota Komisi X DPR RI dari FPKB.

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa (UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 3). Inilah yang mendasari Kementerian Pendidikan Nasional  mulai tahun pelajaran 2011/2012 menerapkan pendidikan berbasis karakter di seluruh jenjang pendidikan. Sehingga Mendiknas M. Nuh, menerapkan pendidikan berbasis karakter sebagai gerakan nasional mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi termasuk di dalamnya pendidikan non formal dan informal. Bersamaan dengan gerakan pendidikan berbasis karakter, sekaligus menyiapkan genarasi 2045, yaitu menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka.

Kalau ditelusuri lebih jauh, pada dasarnya pendidikan karakter adalah mendorong lahirnya anak-anak paripurna (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karakter yang baik, akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai halyang terbai dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Dengan pemebentukan karakter, peserta didik diharapkan mampu bersaing, bertanggung  jawab, bermoral, berlaku jujur, saling menghormati dan sopan santun ketika berinteraksi dengan masyarakat.

Dalam konteks ini, ada tiga aspek dominan yang harus dikembangkan dalam diri setiap individu (siswa), yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik. Pendidikan karakter akan mengenalkan siswa nilai-nilai serta norma ke dalam wilayah kognitif, yang selanjutnya diarahkan untuk dihayati dan diresapi ke dalam wilayah afektif. Sedangkan pengejawantahannya siswa akan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dimana siswa mampu berinteraksi dan bersosialisasi secara langsung di masyarakat.

Selain itu menanamkan nilai-nilai sopan santun, adil dan kasih saying, perlu adanya kerjasama yan gbaik antara keluarga dan pihak sekolah serta masyaraat. Sehingga penanaman budi pekerti melalui pendidikan karakter adalahkucni utama untuk membangun bangsa. Karena sejak hilang dari kurikulum pendidikan, budi pekerti diintegrasikan ke dalam Pendiikan Kewarganegaraan, kemudian Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan kini Pendidikan Kewarganegaraan (KTSP 2006).

Pengajaran nilai-nilai moral dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang mengandung nilai-nilai budi pekerti, dewasa ini cenderung tidak efektif karena materi dan kompetensi dalam kurikulum terlalu bersifat kognitif dan diajarkan secara teoritis, verbalistis. Cenderung menekankan nasehat tanpa pengegakan imbalan dan sanksi dalam pelaksanaan nasehat.

MENGOLAH PENDIDIKAN KARAKTER

Karakter dapat diolah melalui berbagai aktivitas yang didasari dengan sikap moral yangbenar. Pertama melatih untuk disiplin. Disiplin diri adalah kunci pertama untuk mengatur mekanisme manajeme diri sehingga siswa mampu, misalnya menghargai waktu. Kedua, melatih kejujuran. Kejujuran sering diucapkan  tetapi sulit dilakukan. Kejujuran tidak muncul dan tumbuh secara alamiah mengingat salah satu sifat manusia adalah egois. Hal ini memberikan keuntungan ganda, yaitu pembentukan peribadi yang jujur dan melatih siswa melakukan control social.

Ketiga, memberikan ruang ekspresi yang cukup. Siswa harus diberikan kesempatan sebanyak mungin  untuk mengekspresikan dirinya. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internasilasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Sekedar contoh, beberapa negara telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya Amerika Serikat, Jepang, Cina dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter berdampak positif pada pencapaian akademis.

Dasar pendidikan karakter ini sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang bias disebut pada ahli psikologi sebagai usia emas. Karena kemampuan anak dalam mengembangkan  potensinya. Usia ini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan  bahwa kegagalan penanaman karakter  sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak.

Pembentukan karakter  merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional pdsal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 yang menyatakan bahwa diantara  tujuan pendidikan nasonal adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumuh berkembang  dengan karakter yang bernafaskan nilai-nilai luhu bangsa serta agama.

Disamping itu, iklim sekolah yang kondusif dan keterlibatan kepala sekolah serta guru adalah factor penentu dari ukuran keberhasilan intervensi pendidikan karakter di sekolah. Dukungan serana dan prasarana sekolah, hubungan antermurid, serta tingkat kesadaran kepala sekolah dan guru juga turut  menyumang bagi keberhasilan pendidikan karakter ini, disamping kemampuan kepala sekolah dan guru – melalui motivasi, kreativitas, dan kepemimpinannya- yang mampu menyampaikan konsep karakter pada anak didiknya dengan baik.

Pendidikan dalam konteks ini guru harus benar-benar memiliki sikap yang  jelas dalam menjalani kesehariannya karena itulah hakekat karakter. Sikap dan perilaku tegas dan jelas yang didasarkan pada kebenaran moral, tentu mejadi auan siswa dalam berpikir. Guru harus mampu menjanadi inspirator setiap siswa dalam belajar.

Dalam sebuah proses belajar, sadar atau tidak, perilaku seorang guru akan menjadi komunikasi (penyampaian pesan) paling efektif dan dan pengaruhnya sangat besar (90%) pada peserta didik. Perilaku inilah yang akan menjadi ‘teladan’ bagi kehidupan social peserta didik. Secara psikologis pengaruh perilaku tersebut adalahpengaruh bawah sadar peserta didik, yang akan muncul kembali saat ia melakukan aktivitas dalam bersikap, bertindak atau menilai sesuatu pada dirinya maupun orang lain.

TIGA AGENDA STRATEGIS

Pendidikan karakter harus ditangani secara serius. Jika apa yang ada dan berkembang saat ini –dapat dikatakan- hanya sekedar merangang upaya yang lebih sistematis dan hanya sebagai stimulasi awal, maka selanjutnya perlu langkahkonkret yang lebih tertata, misalnya ada pijakan hokum dalam kierarki perundang-undangan.

Kedua, perlu ada semacam konsesnsus nasionalyang diperoleh dari berbagai metode kristalisasi pendapat, untuk menggali dan menyepakati nilai-nilai yang akan kita kembangkan dan tanamkan dalam pendidikan karakter ini. Ketiga, yang dibutuhkan dan terpenting adalah kepemimpinan dan keteladanan. Artinya, bagimana system penanaman nilai yang ada dalam pendidikan karakter itu tercermin dalam setiap langkah pemimpin kita.

Oleh sebab itu, pendidikan karakter adalah kearifan dari keanekaragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Pendidikan harus diletakkan pada posisi yang tepat, terutama ketika menghadapi konflik yangberbasis pada ras, suku dan keagamaan. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah bagaimana manusia dapat berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berjalan di masyarakat.***

Sumber: Majalah Risalah Nahdlatul Ulama No. 26/Thn IV/1432H/2011, hal 46. “Diskurus Pendidikan Berbasis Karakter”, oleh: H. Abdul Hamid, M.Ag. Anggota Komisi X DPR RI dari FPKB

 

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

One Response to Diskursus Pendidikan Berbasis Karakter

  1. Hai… salam kenal ..
    Menarik sekali artikel anda. Saya sangat kagum akan kepedulian anda pada dunia anak-anak. Saya juga punya sebuah blog yang berisikan segala hal tentang dunia anak-anak…
    Lagu Anak
    Pendidikan Kreatif untuk anak
    Tips Parenting (Dari ortu kepada anak)
    Dongeng moral anak..
    Dan masih banyak lagi..
    Silakan kunjungi blog saya…
    Bila berkenan, mari bertukar link..
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: