Agustusan di Bulan Ramadhan Lagi


Tahun ini kita kembali memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia di bulan Ramadhan, bahkan pada tanggal yang sama yaitu 17 Agustus dan 17 Ramadhan. Dan sepertinya peringatan Agustusan di bulan Ramadhan akan berjalan setidaknya selama 5-6 tahun berturut-turut sejak 2009-2013.

Hal terpenting dari peringatan kemerdekaan itu adalah bagaimana pada usia Republik Indonesia yang ke-66 sekarang dapat membuktikan dirinya sebagai negeri yang dapat meraih cita-cita kemerdekaannya, yaitu masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Namun sepertinya cita-cita  mulia itu masih harus diperjuangkan terus mengingat masih ada dari penyelenggara negara dan wakil rakyat yang masih bermental penjajah yang suka menjarah. Ini artinya Indonesia justru harus melawan penjajah dari negeri sendiri. Ketika kita dijajah oleh kolonial Belanda, kita bisa membedakan secara fisik. Mereka berkulit putih, rambut putih, mata biru, bahasa Londo, irung mancung. Kita mudah untuk menumpas penjajah (Londo). Tapi sekarang ketika kita dijajah oleh orang yang berkulit sama, bermata sama, berbahasa sama, hidup bersama, bernyanyi bersama…tapi diam-diam menikam dari belakang. Orang yang dulu kita elu-elukan, kita dukung, ternyata penjajah. Siapa yang bisa menumpas penjajah seperti ini? Hukum dan keadilan. Ya…itu harus ditegakkan.

Ramadhan adalah bulan untuk muhasabah dan riyadloh, introspeksi dan belajar untuk menata kembali hati yang tercabik. Merdekakan hati kita dari nafsu angkara. Jihad akbar adalah jihad melawan hawa nafsu. Ketika nafsu kita sudah terkendalikan, insya Allah sifat rakus, egois, ingin menang sendiri, dan sifat-sifat penjajah akan hilang.

Kebebasan sejati itu sebenarnya adalah berupa pengendalian bukan pelampiasan. Kebebasan dikendalikan norma (syariat, hukum, adat). Puasa adalah latihan agar mausia dapat memenej dirinya sesuai dengan norma-norma itu. Sejatinya keteraturan manusia dengan norma-norma itu bukanlah berada dalam pengekangan tetapi justru berada dalam ruang kemerdekaan yang sebenarnya, karena dengan norma dan batasan-batasan itu dia bisa menguasai dirinya dan bukan sebaliknya. Karena bisa menguasai diri, maka menjadikan dia leluasa dalam membawa diri. Maka dalam konteks Indonesia, puasa Ramadhan kali ini harus kita fungsikan untuk menuju kemerdekaan atau kebebasan sejati yakni kemerdekaan atau kebebasan yang di dasari dengan pengendalian diri.***

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: