Nasionalisme Bocah Lola


Pagi ini saya mencoba membolak-balik koran Suara Merdeka kemarin, Senin (23-10-2011). Ada catatan yang cukup menari. Judulnya “Nasionalisme Bocah Lola”. Mungkin ini diterbitkan dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

“Bocah Lola” kalau dalam bahasa Banyumasan, artinya “anak yang tidak punya orang tua”. Artikel ini menarik, makanya saya ingin mempersembahkannya buat Anda…

COBA iseng-iseng saja Anda bertanya pada seorang anak muda. ”Siapa Menteri Perumahan Rakyat yang baru dan siapa pelantun lagu ‘Alamat Palsu’?” Atau, ”Pilih mana menari Srimpi atau dance ala Korea?”
Kemungkinan jawabannya adalah dia tidak mengenal Djan Faridz dan sangat mengenal Ayu Ting Ting, atau memilih tarian Korea ketimbang Srimpi. Kalau kedua pertanyaan itu bahan kuesioner untuk mengetahui rasa nasionalisme anak muda, Anda mungkin sudah mendapat gambaran simpulannya: betapa rendahnya nasionalisme anak muda.

Cukupkah hanya karena tidak mengenal nama Pak Menteri dan ogah menari Srimpi lantas cap itu Anda berikan?
Memang, setiap menjelang dan saat peringatan Hari Sumpah Pemuda, kaum muda seolah-olah berada pada situasi tidak nyaman. Sebab, perguliran wacana biasanya seputar kisah romantisme masa lalu yang memuja-muja tokoh pemuda yang penuh gereget memperjuangkan nasionalisme Indonesia dan cerita mengenai anak muda cengeng yang lebih suka nongkrong di mal, ketimbang memikirkan persoalan bangsa.

Tentu saja ada banyak alasan, mengapa muncul anggapan mengenai rendahnya nasionalisme di kalangan muda sekarang. Mereka dianggap lebih suka ”berkicau” di Twitter, memuja-muja para artis atau bernarsis-narsis di Facebook ketimbang serius belajar agar pintar, dan ilmunya suatu hari bisa dipakai untuk membangun bangsa. Mereka dituding lebih suka membicarakan potongan rambut atau tren baju terbaru atau kongkow di mal dan kafe-kafe, daripada mendiskusikan derajat bangsa yang terus turun di mata negara-negara tetangga. Ada juga pendapat sumir bahwa mereka lebih suka berbudaya asing ketimbang berbudaya sendiri.

Cukupkah lantaran perilaku seperti itu, lantas kita sebut mereka bernasionalisme rendah?
Tunggu dulu. Kalaupun benar ada persoalan kepudaran rasa nasionalisme di kalangan anak muda, tidak cukup hanya disikapi dengan menjadikan mereka sebagai kambing hitam. Sebab, mereka bisa saja ”menghantam balik” dengan mengambinghitamkan generasi yang lebih tua. Mereka bisa saja menganggap generasi tua hanyalah generasi korup yang tak becus mengurusi persoalan bangsa, dan buat mereka itu bukti mereka tidak punya nasionalisme.
***
YA, terhadap tudingan soal rendahnya nasionalisme, anak muda bisa saja membeberkan bukti-bukti bahwa rasa nasionalisme mereka masih sangat tinggi. Siapa yang berteriak paling keras ketika Malaysia terus-terusan bikin ulah dan menyinggung harga diri nasionalisme kita? Dari siapa istilah ”Malingsia” muncul? Ketika Timnas Indonesia bertanding, siapa pendukung terbesar? Ketika mereka marah terhadap PSSI karena tak becus mendongkrak kualitas Timnas, apakah itu hanya karena mereka takut tak bisa menikmati hiburan dari lapangan hijau? Tentu saja bukan.

Mereka punya banyak alternatif hiburan, dan kemarahan-kemarahan itu pasti lahir dari rasa memiliki bangsa.
Ketika Darsem hendak dipancung di Saudi Arabia dan kasus-kasus serupa lainnya, mereka juga berteriak agar pemerintah melakukan sesuatu. Mereka tidak kenal Darsem, dan pasti itu lantaran perempuan itu warga Negara Indonesia. Tapi ketika Darsem ”berulah”, mereka marah tapi lalu abai.

Boleh jadi, sikap abai itu tidak lahir secara ahistoris. Karena nasionalisme pula anak-anak muda itu sudah berupaya sibuk ”memikirkan” karut-marut bangsa yang dihasilkan dari korupsi berjamaah atau ”dagang sapi” di kalangan politikus. Mereka sudah melakukan sesuatu demi pemenuhan rasa nasionalisme tapi lalu karena jarang tergubris, mereka marah dan abai.

Bisa jadi, dalam persoalan nasionalisme, sebenarnya anak-anak muda itu hanyalah kumpulan bocah lola, anak yang tidak berbapak dan tak beribu. Mereka ingin mencari teladan, tapi yang hendak dijadikan panutan tak ada. Ketika tak menemukan teladan pada kalangan tua, mereka melirik kalangan muda yang ”berprestasi”. Tapi lalu mereka disodori nama Nazarudin dan Gayus Tambunan. Mereka kecewa lagi, lalu memilih cuek.

Ya, mungkin saja anak muda itu memilih menjadi bocah lola. Tanpa ibu dan bapak di rumah, dia melakukan apa-apa sendiri. Dia memilih aktivitasnya sendiri. Dia bisa asyik sendiri. Pada saat seperti itulah, lalu kita menohoknya dengan predikat ”anak mbambung”. Anak seperti itu memang mencemaskan. Kita takut, dia tak pernah pulang ke rumah dan pelan-pelan rumah itu ambruk. Kalau rumah itu sebuah negara? (09)

Sumber: Suara Merdeka oleh: Saroni Asikin

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: