Antara UN dan UKG


unSaat ini sepertinya Kemendikbud sedang dibanjiri kritikan berkaitan dengan penidikan di Indonesia. Belum selesai persoalan Kurikulum 2013, kali ini Kemendikbud harus berhadapan dengan kisruhnya pelakanaan UN di berbagai lini. Mulai dari dari tender, pencetakan naskah ujian, pendistribusian yang terlambat yang berbuntuk pada penundaan pelakanaan ujian, sampai berbagai persoalan teknis di lapangan, pengawasan dan peserta ujian. Wah…repot. Yang repot lagi, berbagai kalangan malah menilai pelaksanaan UN tahun ini adalah terburuk sepanjang sejarah UN di Indonesia. Ya indikatornya mungkin dari banyaknya persoalan yang muncul. Sampai pada kualitas kertas juga katanya terburuk. LJUN (Lembar Jawab Ujian Nasional) atau dulu disebut LJK (Lembar Jawab Komputer) kualitasnya sama persis dengan kertas soal. Ini sebuah ironi, ketika peserta didik dituntut hati-hati dalam mengerjakan soal untuk menjaga keutuhan LJUN untuk mempermudah proses pemindaian (scanning), tapi kualitas kertas LJUNnya sendiri sangat buruk.

Terlepas dari berbagai persoalan diatas, Ujian Nasional sebagai faktor kelulusan telah mebimbulkan polemik yang panjang. Ada yang mengatakan Ujian Nasional sangat penting agar tingkat pendidikan merata, ada juga yang mengatakan tidak perlu karena seluruh sekolah sudah menggunakan kurikulum yang sama dengan sekolah lainnya. Menurut sebagian pendapat, memang Ujian Nasional atau UN tidak salah dilakukan, tetapi UN tidak perlu digunakan sebagai standar kalulusan peserta didik. Nah, masalah ini kemudian dijawab dengan kebijakan bahwa penentu kelulusan siswa bukan hanya nilai UN, tetapi gabungan nilai rapor dan nilai Ujian Sekolah atau yang disebut Nilai Sekolah juga menentukan kelulusan siswa.

Meski demikian permasalah ini menjadi pembicaraan dimana-mana hingga menjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengatakan tak mungkin menghapuskan Ujian Nasional (UN). “Kalau tidak dilanjutkan (ujian Nasional), terus anak-anak mau ujian pakai apa?  mereka mau lulus pakai apa?”, ungkap Nuh dihadapan Komisi X DPR-RI, kemarin.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi X dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Reni Marlinawati justru meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh untuk tidak memaksakan pelaksanaan UN ke depannya. “Mendikbud harus berbesar hati dan legowo dengan menerima situasi sulit ini. Jangan memaksakan keadaan yang kemudian akan merugikan siswa dan masyarakat,” kata Reny.

Ini sih sekedar pendapat, kita masih ingat ketika guru “diributkan” dengan pelaksanaan UKG (Uji Kompetensi Guru). Banyak guru yang keberatan mulai dari teknisnya yang sulit karena harus online sementara tidak menguasai IT, dan banyak yang berfikiran bahwa UKG akan memutuskan tunjangan profesi  bagi mereka yang dinyatakan belum berhasil menyelesaikan soal ujian dengan baik. Kemudian pemerintah menjelaskan bahwa UKG tidak digunakan sebagai standar guru untuk mendapatkan tunjangan profesi atau tidak, tapi hanya digunakan sebagai alat untuk memetakan kemampuan guru sehingga pemerintah mudah dalam memberikan pembinaan terhadap profesi guru. Yaitu bahwa tujuan UKG adalah (1) Pemetaan penguasaan kompetensi guru (kompetensi pedagogik dan profesional) sebagai dasar pertimbangan pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan; (2) Sebagai entry point penilaian kinerja guru dan sebagai alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja guru.

Nah memandingkan kasus itu, bagiamana kalau UN sekarang digunakan sebagai tolok ukur saja. Artinya kita harus melihat fakta keberagaman SDM dan fasilitas sekolah yang ada di berbagai daerah. Dengan berbagai keragaman itu kemudian diukur denganalat ukur yang bernama UN. Boleh dengan UN, tapi tidak menjadi standar lulus. Tapi UN sebagai alat untuk pemetaan penguasaan materi peserta didik sekaligus entry point penilaian kinerja guru. Nah jadi imbang antara guru dan peserta didik. Dari hasil pemetaan kompetensi guru dan peserta didik inilah kemudian dijadikan pertimbangan pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagiamana tujuan UKG. Jadi antara UKG dan UN nyambung….[]

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: