Pak Sujari yang tetap kreatif di usia senja


pak sujariPagi itu (27/2/2013) di ruang guru kedatangan seorang penjual buku. Saya mengira penjual buku seperti kebanyakan orang. Tapi ternyata beda. Ini pengarangnya langsung. Pak Sujari, seorang mantan Kepala Sekolah Dasar di Sokaraja Banyumas era 80-an.

Bukunya memang tipis, tapi bukan tipisnya. Saya menilai nilai karyanya. Buku “Panuntun Basa Jawa” dan buku “Panuntun Maca lan Nulis Aksara Jawa”. Hanya dua buku itu yang beliau tawarkan. Tapi itu hasil karyanya.

Di usianya yang sudah mencapai 76 tahun, beliau masih kreatif membuat karya tulis dan beliau sendiri yang memasarkannya. Mengapa dipasarkan sendiri? Hal ini memang beliau sadari, bahwa bahasa jawa kadang kurang menarik dan cenderung ditinggalkan orang. Ternyata dengan terjun langsung ke sekolah-sekolah, orang lebih apresiatif, sehingga mempercepat pemasaran buku.

Menurut Pak Sujari, bahasa jawa itu bahasa dunia. Ini dibuktikan pada tahun 2008, diselenggarakan Kongres Bahasa Jawa Sedunia yang diselenggarakan di Baturaden Purwokerto, yang diselenggarakan bersama pemerintah Indonesia dan Belanda.

Dalam praktek kehidupan masyarakat sekarang orang sudah melupakan basa jawa. Kadang ada orang yang berbahasa jawa, tapi salah dalam hal penerapan unggah-ungguh. Contohnya ada orang mengatakan, “Nyuwun pangapunten, dalem badhe kondur rumiyin, putra kula gerah”. Ini salah.

Ada lagi, seorang penjual bermaksud mengembalikan uang kembalian, lalu dia berkata, “Niki kondure”. Ini salah. “Kondur” itu untuk orang, bukan uang , tapi “susuk”, jadi yang benar “Niki susuke”.buku pak sujari

Yang aneh lagi menurut Pak Sujari, kita ini kan orang jawa, kok ada yang mengajar bahasa jawa di sekolah dengan pengantar bahasa Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Pak Sujari juga menyampaikan salah satu hasil Kongres Basa Jawa se-Dunia tahun 2008, antara lain memutuskan, bahwa penulisan basa jawa disesuaikan dengan bahasa lisannya. Misalnya dulu “menika” ditulis “punika”.  Sekarang dengan keputusan kongres tersebut, tidak ditulis “punika” tapi sesuai dengan cara pengucapannya, yaitu “menika”.

Yang nyentrik lagi dari Pak Sujari, ternyata beliau dapat “nembang jawa” dengan suara yang bagus. Bahkan beliau membuat lirik lagu Sinom, berikut:

Angajia tata karma

Ngajia basa kang becik

Ngajia duga prayaga

Ngajia wruh wewadi

Semu lawan lelungit

Ing esit wangsit den weruh

Aja ngawur kewala

Lawan den bias nyurupi

Mring wateking wong siji-siji menika.

Sukses selalu buat Pak Sujari. Smoga karya Bapak menjadi sumbangan yang tak ternilai bagi pendidikan karakter orang jawa, dan semangatmu dapat menjadi teladan bagi kami generasi bangsa[]***

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: