Metodologi Interpretasi (Teori Sosial Kritis tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa)


Tulisan ini merupakan tugas kuliah dan merupakan rangkuman dari sebuah buku.

 A.     Pendahuluan

Secara bahasa, interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal sebagai interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai interpretasi berurutan). Menurut definisi, interpretasi hanya digunakan sebagai suatu metode jika dibutuhkan. Jika suatu objek (karya seni, ujaran, dll) cukup jelas maknanya, objek tersebut tidak akan mengundang suatu interpretasi. Istilah interpretasi sendiri dapat merujuk pada proses penafsiran yang sedang berlangsung atau hasilnya.

Suatu interpretasi dapat merupakan bagian dari suatu presentasi atau penggambaran informasi yang diubah untuk menyesuaikan dengan suatu kumpulan simbol spesifik. Informasi itu dapat berupa lisan, tulisan, gambar, matematika, atau berbagai bentuk bahasa lainnya. Makna yang kompleks dapat timbul sewaktu penafsir baik secara sadar ataupun tidak melakukan rujukan silang terhadap suatu objek dengan menempatkannya pada kerangka pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas.

Sebagai sebuah metode interpretasi yang memfokuskan dan memprioritaskan dengan sangat dominan pengkajiannya kepada bagian-bagian yang paling melekat (organik), symbol-simbil. Analisa bentuk symbol akan sangat tepat bila dikonseptualisasikan berdasarkan kerangka metodologi ‘hermeneutik mendalam”. Kerangka ini menyoroti kenyataan bahwa objek analisanya adalah konstruk symbol penuh makna yang menuntut dilakukannya interpretasi. Dengan cara inilah kita dapat menilai karakter pembeda domain objek. Bentuk-bentuk symbol juga terkandung dalam konteks social dan historis yang berbeda-beda yang terstruktur dengan cara yang bermacam-macam.

Hermeneutika-mendalam menyediakan sebuah kerangka yang memungkinkan –pada level metodologis- untuk melakukan reorientasi  terhadap sisi-sisi ideologis dan komunikasi massa. Pengembangan pendekatan hermenetuka-mendalam ini harus memahami karakter pembeda yang dikandung oleh ideology dan komunikasi massa.

B.      Beberapa Kondisi Hermeneutik Penelitian Sosial Historis

Pada bagian ini akan dikembangkan sebuah kerangka metodologis yang diambil dari tradisi hermeneutic. Tradisi kuno ini berawal dari perdebatan tentang kesusasteraan Yunani Kuno yang telah mengalami perubahan sejak kemunculannya dua milena yang lalu. Dalam hal ini perkembangannya dikaitkan dengan krya para filosof hermeneutic abad 19 dan 20, terutama Dilthey, Heidegger, Gadamer dan Ricoeur.

Para filosof itu mengingatkan kita bahwa studi tentang bentuk-bentuk symbol secara mendasar dan mutlak merupakan pemahaman dan interpretasi. Bentuk-bentuk symbol adalah kontruksi makna yang harus diiterpretasikan, ia dapat berupa tindakan, ucapan, teks yang dapat dipahami.

Hasil penelitian social pada prinsipnya diambil oleh subyek yang membangun domain subyek-subyek yang dari situ hasil tersebut diformulasikan, dan domain tersebut dapat berubah dalam setiap proses penerimannya.

Berkaitan dengan hermeneutika, hal yang masih relevan hingga saat ini adalah bahwa “subyek yang membangun dunia sosialnya selalu berada dalam tradisi sejarah”. Manusia adalah bagian dari sejarah. Kompleksitas makna dan nilai yang dialihkan dari satu generasi ke generasi berikutnya pada dasarnya merupakan bentuk dari apa yang disebut manusia itu. Titik inilah yang dikembangkan oleh Gadamer, bahwa produksi makna yang kreatif yang secara implicit menjelaskan sumber daya tradisi, berguna untuk menekankan kenyataan bahwa mausia selalu menjadi bagian dari konteks social-historis yang lebih luas. Artinya, pengalaman manusia selalu bersifat historis, dan pengalaman baru selalu mengasimilasi pengalaman masa lalu. Untuk memahami sesuatu yang baru perlu membangun sesuatu yang sudah ada. Sesuatu yang baru dibangun dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Masih menurut Gadamer, bayagan masa lalu tidak hanya dasar untuk mengasimilasikan pengalaman baru ke dalam masa sekarang dan masa depan, tapi dalam kondisi tertentu bayangan tersebut dapat menyembunyikan, menggelapkan dan menyamarkan masa sekarang. Max dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, saat dia mengamati perubahan dan konflik social yang cepat, manusia cenderung ‘menyulap semangat masa lalu’ untuk menyamarkan masa sekarang dan untuk meyakinkan kembali dirinya akan kontinuitas masa lalu.

C.      Kerangka Metodologis Hermeneutika-Mendalam

Tradisi hermeneutika telah memberikan perhatian utamanya pada persoalan-persoalan makna dan pemahaman, pada cara-cara bagaimana dunia social-historis tercipta melalui ucapan dan tindakan individu yang penuh makna sehingga dapat dipahami oleh orang yang terlibat dalam kehidupan. Bagaimana tradisi tersebut dapat memberikan sumber-sumber metodologi untuk memahami tidak hanya konstruksi makna dari dunia social-historis, tapi juga nilai esensialnya sebaga sebuah dasar kekuatan.

Dalam hal ini kita dapat menemukan jawabannya melalui karya Paul Riceur. Secara eksplisit dan sistematis dia berusaha menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan baik refleksi filosofis akan kehidupan dan pemahaman, maupun refleksi metodologis tentang sifat dan tugas interpretasi dalam penelitian social. Kunci dari arah refleksi ini adalah apa yang disebut ‘hermeneutika-mendalam’ (dept-hermeneutics).

Pendekatan hermeneutika-mendalam harus mengakui dan memahami cara bentuk-bentuk symbol itu diinterpretasikan oleh subyek yang terdiri dari domain subyek-subyek. Dengan kata lain, hermeneutika kehidupan sehari-hari merupakan titik permulaan primordial dan tidak dapat dihindari dalam penekatan hermeneutika-mendalam. Karena itu pendekatan hermeneutika-mendalam harus didasarkan pada upaya menjelaskan bagaimana bentuk-bentuk symbol itu diinterpretasikan dan dipahami oleh individu-individu yang memproduksi dan menerimanya dalam konteks kehidupan sehari-harinya. Sisi entografik ini merupakan permulaan yang sangat diperlukan dalam pendekatan hermeneutika-mendalam.

Hermeneutika-mendalam merupakan kerangka metodologi yang luas yang memuat tiga fase dasar atau prosedur. Tiga fase itu dapat digambarkan dengan analisa social-historis, analisa formal atau diskusif, dan interpretasi-interpretasi.

 1.      Analisa Sosial-historis

Bagaimana fase analisa tersebut dianggap sangat sesuai untuk dipraktekkan? Ini akan bergantung pada obyek analsa tertentu dan jenis informasi yang diterima oleh peneliti.

Fase pertama, analisa social-historis.  Bentuk-bentuk symbol tidak berada dalam suasana yang vakum, ia duat lalu ditransmisikan dan diterima dalam kondisi social dan historis tertentu. Tujuan analisa sosial-historis adalah untuk merekonstruksi kondisi social dan historis dari produksi, sirkulasi dan resepsi bentuk-bentuk symbol. Cara-cara bagaimana kondisi tersebut diamati secara tepat akan berbeda dari satu studi dengan studi lainnya, tergantung pada objek dan kondisi particular penelitan.

Analisa social-historis memiliki tingkat analisa antara lain: setting ruang-waktu, bidang interaksi, insitusi social, struktur social dan media teknik transmisi. Setting ruang-waktu dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan tempat diproduksi dan diterimanya bentuk-bentuk symbol oleh individu dalam local tertentu. Bentuk-bentuk symbol secara tipikal juga berada dalam bidang interaksi. Kita dapat menganalisa sebuah bidang sebagai sebuah ruang posisi dan sebuah lintasan yang secara bersama menentukan beberapa relasi antara individu dan beberapa peluang yang tersedia bagi mereka.

Tingkat analisis social-historis ketiga adalah institusi social, yang dapat dianggap sebagai kumpulan aturan dan sumber daya yang relative mapan dengan relasi social yang terbangun di dalamnya. Menganalisa institusi social berarti merekonstruksi kumpulan aturan, sumber daya dn relasi yang menjadi landasannya, mengikuti perkembangnnya dalam guliran waktu dan mengamati praktik dan sikap individu yang bertindak untuk dan dengan institusi tersebut.

Struktur social dapat dipahami dengan mengacu pada asimetri dan perbedaan tetap yang menjadi karakter institusi social dan bidang interaksi. Menganalisa struktur social berarti memfokuskan pada aspek asimetri, perbedaan dan pembagian. Karenanya seorang peneliti harus memiliki criteria, merumuskan kategori dan menjelaskan perbedaan-perbedaan yang nantinya dapat membantu mengatur dan menjelaskan bukti asimetri dan perbedaan sistematik dari kehidupan social. Analisa terhadap formasi dan reproduksi kelas social atau analisa terhadap pembagian antara laki-laki dan perempuan serta bentuk-bentuk asimetri dan ketidakadilan lainnya merupakan contoh dari apa yang tercakup dalam analisa struktur social.

Terakhir, jika bentuk-bentuk symbol itu mengalami pertukaran antara individu-individu, maka hal terebut memerlukan beberapa media transmisi,  apakah ia berupa gelombang siaran yang diatur secara sederhana, seperti dalam kasus ucapan yan gberada dalam situasi yang berhadap-hadapan, atau mekanisme kompleks dengan menggunakan kodifikasi dan transmisi secara elektronik, seperti dalam kasus siara radio atau televise.

Media teknik  bukan sesuatu yang asing. Ia selalu menempati konteks sosol-hostoris tertentu, yang selalu mensyaratkan jenis ketrampilan, aturan dan sumber daya untuk menulis (encode) dan menguraikan (decode) kode pesan, atribusi yang tersebar secara tidak rata di antara individu. Ia selalu disebarkan dengan sarana kelembagaan yang banyak memeprhatikan upaya pengaturan (regulating) produksi dan penyebaran bentuk-bentuk symbol. Karenanya analisa sosial-historis media teknik inskripsi dan transmisi tidak dapat diartikan sebagai penelitian teknik, tapi harus berupayamenjelaskan konteks social yang lebih luas dimana media dipergunakan dan disebarkan.

2.      Fase Analisa Formal atau Diskursif

Objek dan ekspresi maknya yang beredar dalam bidang social juga merupakan kontruksi symbol yan gbkompleks yang menunjukkan struktur artikulasinya. Karakteristik inilah yang memerulukan fase analisa yang kedua, yang disebut fase analisa formal atau diskursif.

Diantara bentuk yang paling terkenal dan paling praktis dari analisa formal adalah analisa semiotic. Analisa semiotic umumnya mencakup abstraksi metodologis dari kondisi social-historis produksi dan resepsi bentuk-bentuk symbol. Ia memfokuskan pada bentuk-bentuk symbol itu sendiri dan berusaha menganalisa cirri struktur internalnya, elemen pembentuknya serta inter-relasinya, dan semuanya dihubungkan dengan system dan kode yang menjadi bagiannya.

Analisa bentuk-bentuk symbol yang berhubungan dengan image juga dapat dianalisa secara formal,  yaitu analisa wacana (discourse), yaitu analisa terhadap cirri-ciri  struktur dan relasi wacana, yang mengacu pada terjadi komunikasi secara actual. Karenanya analisa diskursif dirancang untuk menganalisa komunikasi sehari-hari antar teman, editorial surat kabar, program televise dll. Inilah yang dimaksud dengan metode analisa pecakapan. Dasar dari metodologi utama analisa percakapan adalah untuk mempelajai contoh-contoh interaksi bahasa dalam setting actual terjadinya indakan untuk memahami sistematika dan cirri struktur interaksi bhasa dengan cra memperhatikan secara cermat susunannya.

Wacana juga dapat dipelajari dengan analisa sintaksis, yaitu analisa terhadap praktik sintaksi atau aturan bahasa (grammer) yang diterapkan dalam praktik sehari-hari. Analisa terhadap aspek grammar praktis atau sintaksis dapat membantu menyoroti beberapa kontstruksi makna dalam bentuk wacana sehari-hari.

Wacana juga dapat dipelajari dengan menganalisa struktur narasi-nya.  Yaitu analisa dan pendekatan terhadap karya sastra dan teks, studi tentang mitos, dan analisa politik. Karakter cerita bisa merupakan sesuatu yang nyata atau sekedar imajinasi, namun cirri-ciri yang berfungsi sebagai karakter ditegaskan berdasarkan hubungannya dengan kondisi sosal yang mendasarinya.

Bentuk analisa diskursif yang terakhir adalah analisa argumentative. Yaitu analisa untuk merekonstruksi dan membuat jelas betuk-bentu kesimpulan yang menjadi karakter wacana. Secara khusus, analisa argumentative dpat digunakan untuk melakukan sturi tentang wacana politik, yaitu ucapan atau wacana resmi pemerintah (berupa argument, klaim, pernytaan tegas, retorika) untuk membujuk audien, dan pernyataan tersebut menggiring kita melampaui fase khusus pendekatan hermeneutika-mendalam.

3.      Fase Interpretasi/re-intepretasi

Proses interpretsai yang dimediasi melalui metode pendekatan hermeneutika-mendalam, secara simultan merupakan proses re-interpretasi, terhadap domain pra-tafsir. Kita mengangankan sebuah maknya yang mungkin berbeda dari makna yang dipahami oleh objek yang membangun dunia social-historisnya.

Sebagai re-interpretasi terhadap domain obyek pra-tafsir, maka proes interpretasi mengandung resiko konflik dan terbuka untuk diperselisihkan. Dan sebuah konflik yang mungkin muncul tidak hanya menunjukkan berbagai interpretasi analisa yang berbeda yang menggunakan teknik yang juga berbeda, tapi juga interpretasi yang dimediasi oleh pendektan hermeneutika-mendalam. Artinya akan muncul konflik interpretasi. Sebuah perbedaan yang terbangun antara interpretasi biasa dengan interpretasi mendalam, antara pra-interpretas dan re-interpretasi yang menciptakan perbedaan kekuatan kritis interpretasi.

Kerangka metodologi hermeneutika-mendalam memungkinkan kita menggunakan metode analisa tertentu sekaligus mengingatkankita akan keterbatasan dan kesalahan yang dikandungnya. Inilah kerangka intelektual bagi sebuah gerakan pemikiran yang memperhatikan sepenuhnya cirri-ciri pembeda bentuk-bentuk symbol tanpa terjebak pada dua perangkap: internalisme dan reduksionisme.

D.     Interpretasi Ideologi

Metodologi hermeneutika-mendalam dapat diterapkan untuk tujuan Interpretasi ideologi. Hal ini merupakan bentuk khusus dari hermeneutika-mendalam.

Interpretasi ideologi menerapkan fase berbeda yang terdapat dalam pendekatan hermeneutika-mendalam, namun fase tersebut digunakan dengan cara tertentu, dengan maksud menyoroti kondisi makna yang diarahkan untuk membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Interpretasi ideologi merupakan interterpretasi terhadap bentuk-bentuk simbol yang berusaha menjelaskan inter-relasi antara makna dan kekuasaan.

Pada tingkatan analisa sosial-historis, pengamatan terhadap ideologi dapat mengarahkan perhatian kita pada relasi dominasi, yang menjadi karakter konteks produksi dan penerimaan bentuk-bentuk simbol yang merupakan bentuk khusus bentuk khusus kekuasaan yang secara sistematis bersifat asimetris dan relatif bertahan lama. Di antara asimetris yang  paling penting dan bertahan lama dalam masyarakat modern yaitu asimetris yang didasarkan pada perbedaan kelas, gender, etnis, dan negara-bangsa, yang semua itu merupakan elemen yang membangun struktur institusi  sosial dan bidang ineraksi.

Pada tingkatan formal atau diskursif, pengamatan inerpreatsi ideologi memfokuskan pada ciri struktur bentuk-bentuk simbol yang memfasilitasi mobilisasi makna.  Ciri struktur bentuk simbol dan analisa diskursifharus bersifat fleksibel untuk memahami ciri yang berbeda, yang merupakan hubungan antara modus operandi umum ideologi dengan beberapa bentuk strategi konstruksi simbol. Penggunaan umum kata kerja yang dinominalkan dan kalimat yang dipasifkan merupakan indikasi adanya strategi atau proses nominalisasi dan pasivisasi. Proses tersebut cenderung mempertahankan relasi dominasi dengan cara mengkonkritkan fenomena sosial-historis, yaitu dengan cara mempresentasikan kesementaraan atau hubungan historis sebagai sesuatu yang tetap, natural dan berada di luar waktu.

Dalam menjalankan argumen semacam itu, harus melampaui fase analisa formal/diskursif dan melanjutkan pada interpretasi/re-interpretasi.  Menginterpretasikan ideologi berarti menjelaskan keterkaitan antara makna yang dimobilisir oleh bentuk-bentuk simbol dengan relasi dominasi yang disitu makna cenderung membangun dan mempertahankan relasi tersebut.

Interpretasi ideologi mengemban tugas ganda, yaitu penjelasan kreatif terhadap makna dan penampakan sintetis terhadap ciri struktur bentuk-bentuk simbol dan kesadaran akan struktur relasi antara individu atau kelompok.

Melakukan interpretasi ideologi berarti melakukan sesuatu yang mengandung resiko penuh konflik. Hal ini karena interpreatsi ideologi tidak hanya mencakup kemungkinan makna yang akan timbul, tapi juga pernyataan bahwa makna yang demikian cenderung membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Dengan demikian interpretasi ideologi melibatkan klaimI dan counter claim, argumen dan counter argumen. Menginterpretasi bentuk simbol ideologi berarti membuka kemungkinan sebuah kritik.

E.      Analisa Komunikasi Massa; Pendekatan Tripartif

Pendekatan terhadap analisa bentuk-bentuk simbol media massa dapat dilakukan dengan pendekatan terhadap tiga aspek dominasi, yaitu pendekatan tripartif. Aspek pertama produksi dan transmisi atau difusi bentuk-bentuk simbol, yaitu proses produksi bentuk-bentuk simbol serta transmisi atau distribusinya melalui saluran penyebaran yang dipilih. Proses tersebut berbeda dalam kondisi sosial historis tertentu dan umumnya meliputi susunan kelembagaan tertentu.

Aspek kedua adalah konstruksi pesan media. Pesan yang ditransmisikan melalui komunikasi massa merupakan produk yang memiliki struktur yang bervariasi; pesan-pesan tersebut merupakan konstruksi simbol yang kompleks yang dapat memperlihatkan artikulasi strukturnya.

Aspek ketiga komunikasi massa adalah penerimaan dan pengambilan pesan media. Pesan tersebut diterima oleh individu atau kelompok individu yang menempati kondisi sosial-historis tertentu, dan yang dapat memfungsikan sumber daya yang ada untuk membuat pemahaman tentang pesan yang diterima dan kemudian memadukan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Perpijak dari tiga analisa tiga aspek komunikasi massa tersebut, proses interpretasi harus berupaya menjelaskan keterkaitan antara pesan media dengan relasi sosial yang melatari pesan media diterima dan dipahami oleh individu dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, proses interpretasi dapat memulai menjelaskan bagaimana makna yang dimobilisir oleh pesan tertentu cenderung membangun dan mempertahankan relasi dominasi. Untuk apa relasi domain itu, apakah makna tersebut berusaha membangun dan mempertahankan relasi tersebut, untuk membangun atau justru menjatuhkannya? Ini merupakan pertanyaan yang hanya dijawab dengan mengatikan produksi/transmisi dan konstruksi pesan media yang diterima individu dalam konteks sosial-historis tertentu.

  1. F.       Pengambilan Sehari-hari terhadap Produk Media Massa

Beberapa ciri umum pengambilan sehari-hari produk media massa yaitu: 1)cara khusus pengambilan produk media massa; 2)karakteristik sosial-historis konteks resepsi; 3)sifat dan signifikansi aktivitas resepsi; 4)makna pesan sebagaimana yang diinterpretasikan oleh resipien; 5)elaborasi diskursif pesan media; 6)bentuk-bentuk interaksi dan kuasi-interaksi termediasi yang dibangun melalui pengambilan.

  1. Cara khusus pengambilan produk media massa. Pendekatan ini memfokuskan pada media teknik transmisi sebagai unsur pembeda dari struktur dan isi pesan yang ditransmisikan. Hal ini berarti akan mengidentifikasi cara-cara khusus individu ketika menerima dan mengambil produk media massa, cara khusus membaca fiksi roman, cara khusus menonton televisi dll.
  2. Penerimaan dan pengambilan produk media massa harus harus dilihat sebagai ‘praktik berkonteks’ (situated practices), yaitu sebagai praktik yang berada dalam konteks sosial-historis tertentu dalam ruang dan waktu tertentu. Kita dapat menganalisa misalnya dalam konteks menonton televisi, siapa yang menonton acara tertentu, kapan, berapa lama, dimana dll; relasi kekuasaan dan distribusi sumber daya dikalangan para resipian (yang mengontrol pilihan program dll).
  3. Sifat dan signifikansi aktivitas resepsi. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa apa yang kita anggap sebagai aktivitas resepsi—membaca buku, menonton tv, mendengarkan musik—merupakan sesuatu yang kompleks dan kecakapan yang memerlukan skill tinggi.
  4. Ciri pengambilan sehari-hari produk media massa berkaitan dengan makna pesan yang diterima dan diinterpretasikan oleh resipien. Produk media massa bukan produk yang hanya dikonsumsi, tapi pesan yang harus dipahami dan dianalisa. Ini merupakan aspek ‘interpretasi doksa’, yaitu interpretasi terhadap pemahaman dan keyakinan individu yang membangun dunianya. Dalam penerimaan pesan, individu menggunakan  dan menerapkan konvensi yang bermacam-macam. Dengan cara itu, kita dapat mengambil dan mengikuti wawasan hermeneutis bahwa ‘makna suatu pesan’ bukanlah sifat yang sudah pasti, tapi sebagai karakteristik yang secara konstan diperbaharui dan diubah berdasarkan setiap proses pengambilannya.
  5. Ciri pengambilan sehari-hari produk medua massa adalah berkaitan dengan elaborasi diskursif pesan media. Pesan media yang ditransmisikan melalui media teknik tidak hanya diterima oleh individu tertentu dan dalam konteks terttentu, akan tetapi biasanya didiskusikan oleh resipien ketika menerima atau setelah menerimanya, dan dengan demikian pesan tersebut dielaborasi secara diskursif dan di-share dengan kelompok individu yang lebih luas yang mungkin telah atau belum mengalami proses resepsi tersebut secara langsung (yaitu orang yang telah atau belum membaca buku, menonton program tv dll.).
  6. Ciri pengembilan produk media massa adalah berkaitan dengan bentuk-bentuk interaksi serta kuasi-interaksi termediasi yang terbangun melalui proses pengambilan tersebut.

Ada empat tipe umum interaksi dan kuasi interaksi.

  1. Terdapat interaksi yang biasa mengambil tempat di antara para resipien atau antara resipien dan non-resipien yang berada di wilayah resepsi utama. Misalnya suatu percakapan yang mengambil tempat diantara  orang-orang yang sedang menonton sebuah program televisi.
  2. Interpretasi yang menempati bagian elaborasi diskursif pesan media yang berikutnya. Tipe interpretasi kedua ini termasuk orang yang tidak hadir dalam konteks awal resepsi atau individu yang tidak mengalami langsung resepsi pesan media.
  3. Antara penerima primer dan sekunder harus dibedakan dari jenis kuasi-interaksi yang terbangun diantara para resipien di satu sisi dan  individu-individu yang merekonstruksi atau terlibat dalam produksi pesan media.
  4. Pengambilan produk media massa juga berkaitan dengan komunitas sejari para resipien (virtual community of recipients, yaitu individu yang tidak dapat melakukan interaksi dengan pihak lain secara langsung maupun tidak langsung, tetapi mereka secara bersama menerima pesan yang sama, dan mereka merupakan kolektivitas yang meluas melintas ruang dan waktu. Mereka adalah bagian integral dari kesenangan dan resepsi pesan terebut milik mereka, meski tidak ada interaksi.

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: