Akhlak dalam Bingkai Ibadah; Nilai Etika Haji dalam Membangun Etos Kerja


hajiPENDAHULUAN

Secara bahasa, haji artinya menyengaja, sedangkan secara istilah haji adalah suatu ibadah yang dilakukan dengan sengaja, dengan cara mengunjungi Baitullah dengan niat mengharap ridho Allah dengan melaksanakan syarat dan rukun tertentu.

Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima yang difardhukan bagi setiap muslim yang mampu sebanyak satu kali dalam seumur hidup. Oleh karena itu, ibadah Haji bagi pribadi muslim adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan jika telah mencapai syarat “istitha’ah”.

PERINTAH HAJI

Adapun perintah haji disyariatkan sesuai dengan Firman Allah Swt:

Artinya : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh (QS. Al Hajj /22: 27)

Artinya : “… mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Ali Imran /3: 97)

MAKNA/HAKEKAT HAJI

Ibadah haji dilakukan secara sempurna dengan melakukan beberapa bentuk ibadah yang termasuk dalam rukun dan wajib haji, seperti thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Mudzdalifah, melontar jamrah, tahallul dan lainnya sebagai bagian dari aktivitas ibadah yang dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.

Namun demikian, Ibadah haji, bukan hanya sebatas ritual saja, tetapi sarat dengan tujuan dan makna filosofis. Rukun dan wajib haji tidak hanya merupakan ibadah semata, tetapi mempunyai makna dan falsafah mendalam sebagai pelajaran berharga baik bagi pelaksana ibadah haji itu sendiri maupun bagi kita yang tidak melaksanakannya.

Salah satu tugas dan kewajiban para jama’ah haji didalam melaksanakan kewajiban hajinya, adalah memahami dan menghayati berbagai hikmah dan manfaat yang terdapat didalamnya. Semakin tinggi penghayatannya, maka akan semakin besar dampak positif yang diakibatkannya, baik untuk dirinya maupun untuk ummat secara keseluruhan. Sebaliknya, jika penghayatan ini tidak ada sama sekali, maka yang terjadi hanyalah sekedar pemenuhan pelaksanaan rukun Islam.

Diantara hikmah-hikmah tersebut antara lain adalah :

  • Penyadaran kembali akan hakekat diri manusia sebagai hamba Allah yang dlaif dan lemah, yang memiliki ketergantungan yang tinggi kepada-Nya, dan sekaligus sebagai makhluk ijtimaiyyah (sosial) yang selalu terikat kepada sesamanya. Seluruh segmen ibadah haji selalu mengandung dua hal ini, seperti thawaf mengelilingi ka`bah, sai` antara shafa dan marwah, wukuf di padang Arafah, dan sebagainya.
  • Menumbuhkan keikhlasan dalam bertauhid, bahwa hanya kepada-Nya kita beribadah dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan. Kalimat talbiyah yang diucapkan oleh para jama’ah haji ketika mengawali ibadah haji, merupakan cerminan ketauhidan yang tulus.

لَـبـَّيـك اللهمَّ لَـبـَّيـك لَـبـَّيـكَ لاشـرِيـْكَ لَـكَ لَـبـَّيـك إِنَّ الْـحَمْدَ والـنِّـعْـمَةَ لَـكَ والْـمُلْك لاَشَـريْـكَ لَـكَ.

  • Pakaian ihram sebagai “pakaian resmi” jama’ah haji sesungguhnya menyadarkan para jama’ah bahwa nilai ketakwaan manusia dihadapan Allah bukan ditentukan oleh penampilan luar, akan tetapi oleh hati dan perilakunya. Seluruh manusia pada akhirnya akan kembali pada Rabb-nya dengan memakai dua helai kain yang sangat sederhana. Penanggalan pakaian keseharian pun mencerminkan bahwa didalam kehidupan ini, pakaian-pakaian keseharian sering menimbulkan keangkuhan dan kesombongan, baik berupa pakaian jabatan, kesukuan, harta benda, dan pakaian-pakaian lainnya.
  • Seluruh segmen ibadah haji mencerminkan dinamika dan etos kerja yang tinggi, yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain secara kontinyu, dan dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hal ini mencerminkan bahwa yang menjadi ciri utama kaum muslimin, dan terutama para jama’ah hajinya, adalah mereka yang hidupnya penuh dengan dinamika dan senantiasa berbuat yang terbaik bagi umat dan bangsanya (Q.S. 94 : 5-8).
  • Berbagai tantangan dan godaan, terutama godaan syaithon, akan dapat dilaluinya. Dan dalam menghadapi godaan syaithon tersebut diperlukan kekuatan, sebagaimana tercermin dalam jumrah di Mina.
  • Menumbuhkan kesadaran Ukhuwwah Islamiyyah. Kaum muslimin disadarkan bahwa walaupun mereka memiliki perbedaan, baik perbedaan warna kulit, suku, bangsa, bahasa, dan adat istiadat, mereka tetap terikat dalam satu kesatuan akidah dan ibadah. Para jama’ah haji pada hakekatnya adalah duta-duta pemersatu ummat.

Dari berbagai kajian tentang hikmah dan makna filosofis haji di atas, sesungguhnya menghantarkan pada sebuah tingkat kesadaran transedental dan kesadaran sosial para jama’ah haji kearah yang lebih tajam dan lebih kuat, sehingga akan melahirkan sebuah gerakan kolektif secara berkesinambungan. Sebuah gerakan moral dan sosial yang akan berdampak pada bidang-bidang lainnya.

Ibadah haji dapat disebut sebagai perjalanan suci (rihlah muqaddasah). Perjalanan suci ini tentu saja amat ditekankan kepada setiap muslim. Dalam satu hadis Rasulullah saw bersabda, ”Tidak ditekankan untuk bepergian kecuali pada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Aqsha,” (HR Bukhari & Muslim).

Untuk melakukan perjalanan ke tiga masjid tersebut, terutama kita yang berada jauh dari lokasi ketiga masjid tersebut tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan perjalanan tersebut merupakan perjalanan suci. Oleh karena itu, perjalanan suci tidak akan menghasilkan sesuatu yang suci bila bekal yang dibawa sesuatu yang tidak suci atau halal.

Dalam Alquran, Allah swt mengingatkan kaum beriman tentang bekal haji ini. Peringatan itu tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 197.

197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

[122] ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.

[123] Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.

[124]         maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

Menurut banyak ahli tafsir, ayat ini diturunkan berkenaan dengan penduduk Yaman. Mereka mempunyai kebiasaan yang kurang baik, yaitu berangkat ke tanah suci (untuk melakukan ibadah haji) tanpa membawa bekal. Mereka menjadi ”telantar” dan melakukan perbuatan yang kurang terpuji di sana, yakni mengemis dan meminta-minta. Sebagai peringatan kepada mereka dan kepada kita semua kaum beriman, Allah swt menurunkan ayat di atas (Al-Manar, 2/229).

Menurut Imam Ghazali, terlepas dari latar belakang turunnya ayat di atas, bekal yang harus dipersiapkan calon haji, berdasarkan ayat di atas, ada dua macam. Pertama, bekal yang bersifat fisik material. Bekal ini diperlukan baik untuk ongkos perjalanan maupun untuk biaya hidup. Bekal ini juga diperlukan untuk berbuat kebajikan, memberi infak dan sedekah. Rasulullah saw amat menganjurkan kepada calon haji agar banyak memberikan infak.

”Biaya dan infak yang dikeluarkan dalam ibadah haji sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan jihad fisabilillah. Satu dirham dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh ratus dirham,” (HR Ahmad). Tanpa bekal yang cukup, calon haji tentu sulit memenuhi anjuran ini.

Bekal kedua ialah yang bersifat mental spiritual. Yang terpenting dari bekal ini, menurut Ghazali, ada dua hal. Pertama, Al-Fahm, yaitu pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang ibadah haji. Hanya dengan bekal pengetahuan inilah, tandas Ghazali, seseorang dapat melaksanakan ibadah haji dengan penuh kesungguhan (tasyawwuq) dan penuh ketulusan memenuhi pangilan Allah (Ihya Ulum Al-Din, 1/314).

Selain pengetahuan, yang juga penting ialah amal saleh dan akhlakul karimah. Inilah bekal takwa yang secara eksplisit disebut dalam ayat di atas. Takwa di sini menunjuk pada kesiapan mental calon haji memenuhi panggilan Allah swt dengan memperbanyak ibadah dan kebajikan, serta menjauhi larangan-larangan Allah. Takwa seperti disebutkan di atas adalah bekal calon haji yang sesungguhnya. Bekal material diperlukan hanya dalam kerangka untuk menopang dan mendukung terwujudnya bekal takwa ini.

MAKNA ETIKA HAJI BAGI PENINGKATAN ETOS KERJA

Ada yang mengatakan ciri seseorang memperoleh ibadah haji yang mabrur adalah bagaimana ia setelah pulang dari mengerjakan haji. Apakah ibadah haji yang ia kerjakan memberikan dampak positif atau atsar bagi kehidupannya, baik dari sisi social maupun spiritual.

Beberapa hal nilai etika haji yang dapat diimplementasikan dalam upaya meningkatkan etos kerja antara lain:

  1. Niat. Niat haji harus suci karena akan mengerjakan sesuatu yang suci. Niat suci ini harus senantiasa dibawa dimanapun dan kapanpun tidak hanya saat mengerjakan ibadah haji. Dalam setiap aktivitas kita sehari-hari harus senantiasa kita kembalikan niat kita sebagai ibadah. Segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Semua yang kita kerjakan akan mendapatkan balasan sesuai dengan niat kita. Ada satu hal yang agak berbeda. Nabi meniatkan haji dengan jahar (diucapkan). Fungsinya untuk menguatkan niat dalam hati. Jadi ada keselarasan antara yang zahir dan batin.
  1. Ihrom, yaitu adalah keadaan seseorang yang telah beniat untuk melaksanakan ibadah haji dan atau umrah. Ketika ihram diharamkan baginya melakukan perbuatan tertentu seperti memakai pakaian berjahit, menutup kepala (bagi lelaki) dan muka (bagi perempuan), bersetubuh, menikah, melontarkan ucapan kotor, membunuh binatang dan tumbuhan, memotong rambut/ kuku, dan lain-lain. Dalam konteks peningkatan etos kerja, sesorang harus meluruskan dan senantiasa menjaga niat, focus dengan pekerjaannya. Tidak tergoda dengan berbagai hal yang dapat mengganggu bahkan dapat menggagalkan pekerjaan, seperti korupsi, menerima gratifikasi (sogok), selingkuh, menyakiti orang lain, merusak lingkungan dll.
  1. Wukuf, yaitu berdiam diri, berzikir, berdoa di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah. Ibada ini mengandung makna agar apa yang kita kerjakan harus kita jiwai. Mengerjakan sesuatu dengah hati. Tidak melulu menggunakan akal apalagi dengan nafsu. Pekerjaan yang dikerjakan dengan ikhlas, insya Allah akan memberi keberkahan. Wukuf juga bisa berarti momen untuk rehat, mengevaluasi perjalanan dan pekerjaan yang telah kita lakukan. Dimana kekurangan dan keberhasilannya. Bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki diri.
  2. Thawaf. Yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. Bagi peningkatan etos kerja, thawaf memiliki makna agar kita tidak kenal menyerah, berjuang sekuat tenaga menjalankan pekerjaan kita untuk meraih hasil yang ditargetkan. 7 adalah angka yang ditargetkan dalam thawaf. Artinya seberapa banyak target pekerjaan yang ditargetkan harus kita kejar. Bersama-sama mengelilingi ka’bah adalah tanda kebersamaan dalam menjalankan tugas. Sesama pekerja, sesama pegawai, sesama staf harus bersinergi, sejalan dalam menjalankan program instansi dengan berpegang pada visi dan misi. Jangan melawan arah, yang berarti menyimpang dari program. Jangan main sikut, jangan main injak karena akan menyakiti sesama pekerja. Justru harus saling bergandengan, saling menjaga dan menolong. Jangan sampai ada yang terjatuh. Thawaf adalah kerja tim. Semua harus mencapai target.
  3. Sai. Sa’i merupakan salah satu rukun Haji dan umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter. Ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak di antara bukit Shafa dan bukit Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau) para jama’ah pria disunatkan untuk berlari-lari kecil sedangkan untuk jama’ah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa’i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang Haid atau Nifas. Nilai etos kerja dari ibadah sa’i antara lain bahwa pekerjaan yang rutin setiap hari harus dilakukan dengan tekun, istiqomah, dan mempunyai target yang jelas. Manusia wajib berusaha, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah Swt. Ini adalah contoh yang dapat diambil dari perjuangan Hajar saat mencari sumber air. Hajar berlari dari satu bukit ke bukit yang lain tanpa kenal lelah, tapi justru air itu muncul di samping putranya (Ismail) yang ia tinggalkan saat mencari air.
  1. Melempar Jumrah. Melempar jumrah merupakan symbol perlawanan kita terhadap setan dan pembebasan diri dari iblis yang suka mengganggu manusia. Nilai ibadah ini bagi peningkatan etos kerja sangat jelas. Dimana kita sebagai pekerja/pegawai dan apapun pekerjaannya tidak boleh tergoda dengan rayuan dan bisikan setan. Banyak godaan dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik. Tapi kalau iman kita kuat, mau dan berani mengekang hawa nafsu, semuanya akan berlalu dan kita akan selamat. Harta, tahta (jabatan) dan wanita adalah godaan yang mengintai setiap saat dalam pekerjaan kita. Apalagi para pejabat yang menduduki posisi penting yang mengelola anggaran besar, dimana peluang untuk menyalahgunakan anggaran sangat mungkin. Inilah cobaan. Sebab jabatan adalah amanah. Perlu ada keberanian melawan korupsi, gratifikasi dll. Enyahkan dan bebaskan diri kita dari godaan iblis yang menyesatkan.
  1. Tahalul. Tahalul adalah mencukur rambut sabagai tanda dibolehkannya beberapa larangan saat berihrom sebagai tanda selesainya rangkaian haji dan umroh. Mencukur bisa bermakna agar kita berpikir dengan jernih. Bahwa segala aturan yang diterapkan saat melakukan suatu pekerjaan harus ditaati. Hal-hal yang dilarang saat melakukan pekerjaan harus dihindari. Artinya kita bekerja, melakukan kegiatan sesuai dengan etika dan tata aturannya.
  2. Tertib. Yaitu mengerjakan kegiatan haji sesuai dengan urutan dan tidak boleh ada yang tertinggal. Tertib juga bermakna disiplin. Artinya semua pekerjaan yang diprogramkan harus dikerjakan sesuai target waktu. Ada tertib pekerjaan ada disiplin waktu. Apabila tidak ingin tertinggal dengan suatu pekerjaan maka harus disiplin.

Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh karenanya kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disamping mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil pekerjaan mereka bermutu dan monumental sepanjang zaman, apalagi kalau bekal dari hasil kerja itu akan dipergunakan untuk bekal perjalanan suci, seperti ibadah haji.

Apapun pekerjaan kita, bekerja menuntut adanya sikap baik budi, jujur dan amanah, kesesuaian upah serta tidak diperbolehkan menipu, merampas, mengabaikan sesuatu dan semena-mena, pekerjaan harus mempunyai komitmen terhadap agamanya, memiliki motivasi untuk menjalankan seperti bersungguh-sungguh dalam bekerja dan selalu memperbaiki muamalahnya. Disamping itu harus mengembangkan etika yang berhubungan dengan masalah kerja menjadi suatu tradisi kerja didasarkan pada prinsip-prinsip Islam.

Adapun hal-hal yang penting tentang etika kerja yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

Adanya keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat, mengontrol dalam kondisi apapun dan akan menghisab seluruh amal perbuatan secara adil kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang pekerja yang dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali)

Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan.

Firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Dilarang memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja, semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar.

Islam tidak membolehkan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.

Professionalisme yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan sesuai dengan prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang teguh sifat amanah, kuat dan kreatif serta bertaqwa tetapi dia juga mengerti dan benar-benar menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan akan mengalami kerusakan dan kebangkrutan juga menyebabkan menurunnya produktivitas bahkan sampai kepada kesemrautan manajemen serta kerusakan alat-alat produksi

Ethos kerja seorang muslim ialah semangat menapaki jalan lurus, mengharapkan ridha Allah SWT.

Etika kerja dalam Islam yang perlu diperhatikan adalah (1) Adanya keterkaitan individu terhadap Allah sehingga menuntut individu untuk bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. (2) Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. (3) tidak memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja, semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar. (4) tidak melakukan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah. (5) Professionalisme dalam setiap pekerjaan.[]***

Perihal zaenalkhayat
seorang guru di madrasah tsanawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: